Indonesiana

Shalat Id 1 Syawal 1432 H

Tentu saja Shalat Id diadakan di 1 Syawal. Bedanya, ada yang 1 Syawalnya tanggal 30 Agustus, dan 31 Agustus. Seperti yang telah kita ketahui bersama, saya dan keluarga memilih yang lebih awal. Tapi tidak seawal tarekat yang merayakan 1 Syawal tanggal 29 Agustus, tentunya.

Pagi 1 Syawal, saya dan adik-adik terhitung telat berangkat. Rencananya kami akan shalat di lapangan Grha Sabha Permana UGM, tapi ndilalah telat. Belum turun dari kendaraan saja sudah disambut jamaah yang sudah mulai shalat, takbir kesekian pula. Kalau jadi makmum masbuk, malu. Setelah berputar-putar, akhirnya dapat lokasi shalat Id yang belum mulai. Tempatnya ternyata di dekat rumah, di lapangan sepakbola milik sebuah SMK. Jogja lama tidak diguyur hujan, jadi lapangan tempat shalat Id tersebut bisa diduga, berdebu. Ah, tapi tentu, itu tidak menghalangi niat kita untuk beribadah, bukan? 😀

Sebelum mulai shalat, iseng-iseng jepret pemandangan sekeliling. Ternyata banyak juga yang memilih merayakan hari kemenangan lebih awal 🙂

Pemandangan yang bagi saya, khas Indonesia sekali. Suasana ini baru akan saya temui lagi satu tahun Hijriyah ke depan.

Seusai shalat Id, bapak di sebelah bertanya, “Dari media mana, Mas?”. Euh, saya cuma iseng motret kok, pak.

Advertisements
Standard
Jalan-jalan

Upside-Down

Belakangan ini aku teringat pada seorang teman nun jauh di sana. Pertemuan kami sudah lama berlalu, tapi momen-momen itu muncul kembali dalam benakku.

Hampir setahun yang lalu, kenalanku, seorang pramuka Polandia, ber-backpacking ria ke Indonesia. Namanya Piotr Zadrozny. Memang sulit diucapkan, dan kebetulan bahasa Polandia gemar mendempetkan banyak konsonan dalam satu kata (seperti Andzej, chuvaj, Gdansk, dan lainnya). Kawan yang satu ini kukenal lewat facebook, dari kawanku yang lain pula.

Continue reading

Standard
Indonesiana

Selamat Datang di Kampus (yang jas almamaternya berwarna) Biru!

Inilah MIT-nya Endonesa, mBandung Institute of Technology. Kampus luar biasa ini terletak di Kota Bandung, yang mengingatkan kita pada gadis-gadisnya (pukul rata saja, saya tidak mensurvei kegadisan mereka) yang modis-modis dan menyenangkan untuk dilihat. Kota ini juga terkenal akan roti pisang “Kartika”, dan tempat asal Ar**l, vokalis sebuah band ternama yang digilai gadis-gadis (sekali lagi, saya pukul rata semuanya) negeri jiran.
Kampus ini tidak seluas UGM. Perpustakaan pusatnya saja juga cuma satu, tidak seperti UGM yang punya beberapa, ada UPT 1, UPT 2, bahkan perpustakaan pascasarjananya juga ada. Melihat kondisi perpustakaannya, saya kerap merasa kasihan, terutama pada para mahasiswanya yang setiap hari nongkrong di sana, berjibun mengantri meminjam buku, seolah-olah buku cuma ada di situ. Bandingkan dengan UPT 2 UGM, suasanya yang sepi, dengan deretan rak-rak buku yang nyaris tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia, lebih menjanjikan suasana membaca yang kondusif, bahkan menyenangkan untuk tidur. Saya tidak bisa membayangkan tertidur di perpustakaan pusat ITB. Masuk saja sulit, harus berebut untuk masuk. Kalau ketiduran di situ pasti malu 😀 Belum lagi adanya semacam tur atau orientasi bagi mahasiswa baru untuk mengenal perpustakaannya. Ada tur yang berjadwal, sebelum mendaftar anggota perpustakaan. Bayangkan!
Kita teruskan keliling kampus. Gedung paling tua ada di depan, konon dipakai oleh Bung Karno menyimak pelajaran dari dosen-dosen tamu kala itu (yang bukan inlander dihitung sebagai tamu). Bentuk atapnya khas sekali, kita tidak akan keliru mengira itu ada di tempat lain. Melongok dalamnya, kita akan melihat bahwa ternyata konstruksinya terbuat dari kayu. Itulah mantapnya insinyur Belanda. Bentuk atap yang khas tersebut akhirnya diterapkan juga untuk gedung-gedung kuliah lain yang lebih baru. Gedung yang dibangun belakangan lebih terlihat segar (modern, atau postmodern? Bingung mendefinisikannya) seperti gedung Teknik Kimia dan SBM.
Satu yang kusuka, kampus ini cukup rindang. Takut kepanasan? Banyak teduhan di sini. Desain kampus memungkinkan orang-orang di dalamnya berjalan kaki ke manapun dengan nyaman, tanpa harus repot-repot berkendaraan. Masih nyambung dengan konsep kampus untuk pejalan kaki, semua fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa bisa ditemukan di sini, mulai dari kantin, fotokopian, pusat komputer, lapangan basket, lapangan voli, aula, lab, bengkel, tak lupa tempat parkir. Hotspot berserak di seluruh tempat, beruntunglah yang memiliki komputer jinjing. Suasananya didukung pula dengan aktifnya para mahasiswa berkumpul, berdiskusi, dan lain-lain. Jadi kangen masa kuliah dulu…
Penampilan para mahasiswanya? Stereotip mahasiswa teknik. Banyak yang gondrong (bila rambutnya keriting, biasanya ditambah bando), rata-rata berkacamata, bercelana jins, dan pasti pintar semua. Aku juga mengamati bahwa banyak juga mahasiswa yang jalan sambil bicara sendiri, entah menghapal rumus, mencoba bernyanyi, sedang mengkhayalkan sesuatu, atau mungkin terlampau stres dengan tugas akhirnya.
Sampai saat ini, citra kompleks kampus ini positif di mataku. Selain lengkap, bisa diakses mudah, dan penuh hiasan (tugu, monumen, dan patung sumbangan dari berbagai perusahaan ataupun alumninya), suasananya benar-benar mendukung untuk fokus. Memang, segalanya tampak lebih rumit di sini (bayangkan Ospek setahun, tur perpustakaan, daftar ulang yang ribet), tapi aku berpikir bahwa itu menandakan orang-orang di sini senang berproses, asik dengan kerumitan yang menyenangkan (bagi mereka). Entahlah, jadi semacam seni mungkin?
Tapi, ada satu yang kurindukan, yang tidak ada di situ. Suasana. Lima tahun, dan aku terlalu terbiasa dengan suasana Jogja yang santai, kreatif, sedikit ndeso, tempat di mana kehangatan bisa dengan mudah kujumpai. Atmosfer Bandung memang berbeda dengan Jogja, dan aku tidak ingin mencampuradukkan keduanya. Bandung, adalah kota yang menyenangkan untuk ditinggali, tapi aku tetap saja masih merindukan Jogja…

*Setelah kubaca ulang, ternyata judul dan akhir tulisan tidak nyambung. Hehehe… Biarlah. Cuek saja.

Standard