Indonesiana, Insight

Ingat Sastra

Zaman saya SMP – SMA dulu, HB Jassin sebagai Paus Sastra Indonesia kerap disinggung. Beberapa kali pula karyanya dibahas di kelas, tetapi tidak intens hingga ke tingkat pemahaman yang mumpuni. Sastrawan dari angkatan Balai Pustaka, 45, Pujangga Baru, beserta karya-karyanya disinggung di kelas pelajaran Bahasa Indonesia, tapi hanya beberapa yang pernah saya baca tuntas. Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Atheis, hanya tiga itu yang seingat saya tuntas terbaca. Malu untuk saya akui 😦

Itu zaman saya sekolah dulu, entah bagaimana di zaman sekarang. Adik saya yang masih SMA lebih sibuk menyiapkan UN dan persiapkan diri ke universitas. Sastra terlupakan? Di sebagian besar sekolah, mungkin. Tapi masih banyak juga guru yang peduli dan memasukkan materi-materi sastra lama Indonesia ke dalam jam pelajaran (apa pun mata pelajarannya), seperti guru pelajaran sejarah dan sosiologi di SMA saya dulu.

Kembali ke hakikat sastra, guru saya dulu berkata bahwa sastra bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sastra merupakan refleksi dan kritik dari keadaan zaman, yang menyisipkan pesan bagi manusia untuk tetap menghargai kehidupan terlepas seberat apa pun hidup itu sendiri. Ironisnya, kondisi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta memang memprihatinkan. Perpustakaan Bung Hatta di Jogja juga sempat begitu, sebelum akhirnya dipindahkan ke perpustakaan pusat UGM. Entah bagaimana kondisinya sekarang, tapi semoga keadaan koleksi-koleksi bukunya menjadi lebih terawat.

Meski sedikit yang masih peduli, dan lebih sedikit lagi yang bersedia melestarikan, semoga karya-karya lawas penuh makna ini masih bisa dinikmati dan diresapi pelajarannya untuk generasi mendatang. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang tunasejarah.

Postingan ini diilhami dari tulisan Mas Iman dan tulisan opini di Kompas hari ini. Jadi ingat janji masa sekolah dulu untuk berburu buku sastra lawas…

Standard
Indonesiana

Sebuah Sejarah Alternatif

B . O . D . O . H .

Kita bodoh bila tidak mau belajar dari sejarah. Dari sejarah, kita bisa mengetahui tipikal karsa manusia di bumi Indonesia ini, dan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi. Pola kejadian yang sama senantiasa berulang. Pun begitu dengan 1965.

PKIAwan gelap menyelimuti negeri ini pasca bulan September 1965. Kejadian pemicunya memang kecil, tapi dampaknya luar biasa. Dampaknya terasa hingga puluhan tahun sesudahnya, membuat sekelompok orang meraih untung, dan kelompok lainnya menanggung derita. Bagi saya, titik balik dalam sejarah yang satu itu menyakitkan. Apakah karena saya berada dalam kelompok yang kalah? Tidak. Karena titik balik itu menjadikan sekelompok orang yang tidak seharusnya berkuasa menjadi mahakuasa, menghancurleburkan masa depan bangsa lebih dari yang kita perkirakan.

Kita lihat…

Indonesia tahun 1960-an, negeri ini sedang membangun. Di Jakarta, Monumen Nasional mulai dibangun. Angkatan bersenjata kita menunjukkan taringnya. Angkatan Udara republik ini malah menjadi yang terkuat di belahan dunia Selatan, melampaui Australia. PSSI disegani di Asia. Di bidang diplomasi, lobi Indonesia kuat, dan disegani banyak negara. Beberapa negara malah menjadikan Indonesia contoh. Konferensi Asia Afrika, New Emerging Forces, menunjukkan Indonesia percaya diri menantang kekuatan-kekuatan besar dunia. Meski kepemimpinan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno nyaris absolut dan kerap membahayakan nasib bangsa ini dengan sikap politiknya, setidaknya bangsa ini memiliki harga diri. Namun yang lebih penting, bangsa kita sedang dibentuk, nation building sedang berlangsung. Bung Karno memompa kepercayaan diri bangsa ini begitu besar. Dengan kepercayaan diri yang begitu kuat, bangsa ini menunjukkan harapan yang cerah di masa depan.

Continue reading

Standard
Indonesiana

Nyata

Siang tadi saya membeli Tempo edisi 5-11 Oktober 2009, di situ ada artikel menarik tentang Njoto. Njoto, nama Jawa yang kesannya lawas, entah masih ada yang menggunakannya atau tidak. Di masa orde yang lalu, mungkin nama itu menyimpan sebuah makna yang bagi setiap orang haruslah dihindari, karena itu akhirnya nama ini tidak lagi populer.

Njoto adalah seorang penikmat hidup. Ia senang membaca sejak kecil, ke manapun selalu saja ada bacaan yang dipegangnya, entah buku, entah koran. Kebiasaan gila membaca yang merupakan turunan dari ayahnya. Sejak kecil kebiasaan ini ditanamkan, sehingga menjadikan ia sebagai sosok yang berwawasan luas. Kegilaannya akan membaca mengantarkannya pada dunia tulis-menulis, yang kelak menjadikannya seorang redaktur. Njoto juga seseorang yang menyenangi musik, dan piawai memainkan instrumen. Sebut biola, piano, bahkan saksofon. Ia kerap bermain musik dengan Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana. Beberapa lagu telah ia karang.

Penampilan Njoto selalu rapi. Kacamata tebal selalu menghiasi wajahnya. Di mata anak-anaknya, ia merupakan sosok periang, seorang ayah yang senantiasa menyempatkan waktu berkualitas untuk keluarganya. Sampai di sini, sosok Njoto terlihat nyata, dan sempurna. Tapi, benarkah dia monster, seperti kata orang? Continue reading

Standard
Indonesiana

100% Indonesian

Tulisan tolol ini berawal dari kegeraman atas “properti” nasional kita yang dicolong maling. Ada baiknya kita mulai membuat daftar apa saja yang menjadi milik bangsa kita. Saya buat dalam dua bahasa, agar orang asing yang tidak paham bahasa inggris juga mengerti (entah kalau bahasa mel**u negeri tetangga). Tidak hanya berhenti di situ, mari kita peduli dan rawat budaya kita. Mari kita ajar anak-anak kita (yang belum punya ya adiknya atau siapalah gitu) membatik, menari pendet, menonton pentas reog (di Indonesia tentunya), belajar gamelan, menyanyikan lagu ‘Rasa Sayange’ (sembari menanamkan di hati bahwa itu adalah lagu dolanan kita yang populer), dan memahami budaya kita. Tidak perlu minder mempelajari budaya sendiri. Banyak aksi yang bisa kita mulai dari hal-hal kecil seperti di atas.

Kembali ke inti masalah, berikut ini adalah MILIK BANGSA INDONESIA:

We, Indonesian, would like to remind the world, that things below are our national treasure. So, don’t believe too quick if another nation such as the (fu**ing) Malaysia give a slight show about so-called their “culture”. You should be critical, whether it is originated in their land, or they just taken it from other nations. Therefore, we’ll try to keep our culture and its products so the future generations of the world can still see the amazing cultures live in Indonesia.

You can be sure that things below are 100% BELONG TO INDONESIAN:

Batik adalah milik Indonesia / Batik is originated and belongs to Indonesia

Gamelan adalah milik Indonesia / Gamelan is originated and belongs to Indonesia

Reog adalah milik Indonesia / Reog is originated and belongs to Indonesia

Bali adalah milik Indonesia / Bali belongs to Indonesia exclusively,  from the past until the end of the world

Tari Pendet adalah milik Indonesia / Pendet Dance is originated and belongs to Indonesia

Lagu ‘Rasa Sayange’ adalah milik Indonesia / ‘Rasa Sayange’ song is originated and belongs to Indonesia

Rendang adalah milik Indonesia / Rendang (a kind of spicy steak) is originated and belongs to Indonesia

Gudeg adalah milik Indonesia / Gudeg is originated and belongs to Indonesia

Rumah Joglo adalah milik Indonesia / Joglo is originated and belongs to Indonesia

Keris adalah milik Indonesia / Keris is originated and belongs to Indonesia

Tempe adalah milik Indonesia / Tempe is originated and belongs to Indonesia

Nasi Goreng Magelangan adalah milik Indonesia / Magelangan Fried Rice is originated and belongs to Indonesia

Rencong adalah milik Indonesia / Rencong is originated and belongs to Indonesia

Angklung adalah milik Indonesia / Angklung (bamboo musical instrument) is originated and belongs to Indonesia

Silat adalah milik Indonesia / Silat is originated and belongs to Indonesia

Apalagi ya produk budaya milik kita? Yang sudah diklaim orang ataupun yang masih belum tersentuh. Sampai sini males ngetik. Habis, banyak banget nih. Tolong bantu tambahin ya 😀

Standard
Insight

Pemuda Menyumpah

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Satu, Tanah Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Hayo, siapa yang tidak kenal naskah di atas? Tulisan klasik tersebut tentunya bukan puisi Chairil Anwar, atau cuplikan dari Serat Centhini. Itu teks Sumpah Pemuda man! Sudah 79 tahun para pemuda Indonesia menyumpah, dan kita pun semakin ahli dalam hal sumpah-menyumpah.

Negara kita kaya. Betapa tidak, mulai dari sumpah prajurit, sumpah setia, sumpah jabatan, sumpah atlet, sumpah pocong, dan yang paling monumental sumpah pemuda. Namun, tentunya kita kenal hukum “ada aksi ada reaksi”. Saat menyumpah, umumnya kita akan merasa senang karena dapat mengeluarkan ganjalan emosi. Mohon pula diingat, saat kita senang ada pihak yang ikut-ikutan tidak senang, dan ini sah karena sesuai kaidah “ada aksi ada reaksi” tadi. Ada yang meyumpah, ada pula yang disumpahi. Coba pikir, apakah para prajurit, setia, pejabat, dan atlet tadi senang saat kita sumpahi? Bila mereka tidak senang disumpahi apalagi pocong.

Nah, karena menyumpah banyak pihak seperti tadi tidak efisien, dan menyakiti hati yang dimaksud, sebaiknya kita memulai penyumpahan yang lebih terarah. Tidak baik menyumpahi prajurit, bisa-bisa dihadiahi pelor, minimal popor. Tidak nyaman pula menyumpahi setia, kasihan, sudah setia malah disumpahi. Begitu pun pejabat dan atlet. Kita semua tentunya iri dengan kedudukan para pejabat, karena kursi mereka bagus-bagus. Kita pun iri tanpa sebab dengan para atlet, karena badan mereka bagus-bagus, tapi sebenarnya didasari sirik karena kita pada umumnya malas olahraga. Namun itu bukan alasan yang cukup untuk menyumpahi seseorang. Lalu, bagaimana dengan pocong? Kurang baik, karena menyelenggarakan sumpah pocong cukup merepotkan, selain itu tidak praktis dan tidak lagi digemari sebagaimana zaman Rano Karno dulu. Lalu apabila pocongnya tersinggung, siapa yang berani memintakan maaf? Nah, pembahasan sumpah-menyumpah kita mulai mengerucut, kita tinggalkan para prajurit, setia, pejabat, atlet, dan pocong tadi.

Siapa lagi yang bisa disumpahi? Pemuda! Tepat sekali, karena urusan sumpah-menyumpah biasanya dilakoni para anak muda, sesuai dengan gelora jiwa mereka. Di tiap daerah, di tiap sudut kota, di tiap masa, ada saja pemuda yang menyumpah. Kadang menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia, sering pula menggunakan bahasa ibu masing-masing. Cocok sekali bukan? Menyenangkan sekali menyadari bahwa pemuda-pemuda kita dapat saling bertukar sumpah, menyumpahi dan disumpahi tanpa takut salah, lha wong sesuai dengan jiwa mereka. Memang top para pemuda kita untuk urusan yang satu ini.

Alangkah bahagianya para pendahulu kita, para mantan pemuda yang dulu bersumpah. Kegemaran mereka kini dapat dilakukan di negera merdeka, dan diteruskan oleh para penerus mereka, sesama pemuda yang suka menyumpah.

Jadi, sudah ingat isi Sumpah Pemuda? Jangan hanya dihapal, tapi juga diamalkan. Bayangkan bila para pemuda se-Indonesia melantunkan isi Sumpah Pemuda dalam sumpah-sumpahan mereka seraya mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari, luar biasa bukan?

Bersatulah Indonesia!

Standard