Insight

Ceramah Tarawih: Edisi Alim

Bagaimana malam-malam Ramadhan Saudara-saudari sekalian? Semoga senantiasa dipenuhi berkah. Sementara (yeah, sementara, seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya) sebulan ini aktivitas keagamaan kita intensifkan demi menjaring pahala dan mentransformasikan jiwa kita menuju keadaan yang lebih baik. Berharap-harap bukan dosa kan? Apalagi di bulan suci ini, tentunya sah-sah sadja 😀

Ini Ramadhan ketiga saya di Kota Kembang. Untuk Ramadhan kali ini, saya mencoba untuk lebih mengeksplorasi masjid-masjid di seluruh kota. Jadi, saya berbuka dan bertarawih di masjid yang berbeda setiap harinya. Ide ini muncul dari sebuah kebosanan, kok ya sholat, ngincar ta’jilan, maghriban, sampai tarawih setiap hari di masjid yang itu-itu saja setiap harinya, padahal masjid kan tidak cuma itu-itu saja. Sekalian biar lebih mengenal Bandung (keterlaluan nih, dua tahun di sini jarang jalan-jalan).

Nah, jadilah sore ini saya berbuka di masjid (aduh, lupa apa namanya) di dekat Balai Kota, dan melanjutkan shalat isya dan tarawih di Masjid Salman ITB. Ada yang menarik dari ceramah tarawih kali ini. Sebelum ke cuplikan isi ceramah, saya paparkan dulu sebuah hal yang sejak dulu saya yakini, yakni bahwa sebuah pilihan yang kita buat bukanlah sebuah “kebetulan” semata. Maksudnya, ketika kita memilih suatu hal, dengan dasar apapun, pilihan tersebut adalah yang paling sesuai dengan kondisi kita dan datang dengan akibat yang sebenarnya kita perlukan atau harapkan. Continue reading

Advertisements
Standard