Selingan

‘Met Lebaran!

Meski telat sehari, saya selaku redaktur menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H bagi segenap pembaca sekalian yang budiman. Mohon maaf lahir batin bila ada isi postingan yang menyinggung, ataupun komen-komen yang tak terbalas. Selamat berlebaran, selamat berkumpul dengan keluarga. Bagi yang mudik, semoga diberi keselamatan untuk kembali ke tempat asal. Bagi yang tidak mudik, semoga tetap dilengkapi kebahagiaan di hari-hari istimewa mendatang. Bagi yang tidak merayakan, semoga dapat turut merasakan kebahagiaan dan kedamaian di hari yang konon sangat istimewa ini 🙂

Hari lebaran tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu saja ada beberapa versi kapan hari lebaran tiba. Kebanyakan memilik antara tanggal 30 dengan 31 Agustus. Ada lagi yang lebih dulu, tapi tak usahlah dibahas. Versi pemerintah adalah tanggal 31 Agustus, yang diputuskan di malam tanggal 29 😦 Anekdotnya, kita tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan bulan Ramadhan yang nan istimewa dan diberkahi ini, tapi juga tidak ingin terlalu lama menyambut “Hari Kemenangan”. Di keluarga kami sendiri, pemilihan lebaran di tanggal 30 Agustus lebih karena ingin segera “menyambut” hari kemenangan yang kami rindukan 😀

Mohon doa, agar blog yang tidak tentu kapan postingnya ini semakin rajin memposting aneka postingan, entah itu yang informatif, kritikan, maupun yang sekedar iseng, demi turut membantu mencerahkan hari Anda-anda sekalian 🙂

Advertisements
Standard
Selingan

Tebak Pemenang

Piala Dunia 2010 akan berakhir malam ini! *secara teknis besok dini hari*

Apakah tim yang Anda jagokan sejak awal bertahan sampai final? Bicara soal tebak-menebak, menebak pemenang dari dua tim yang bertanding tentu lebih gampang dari menebak yang bakal keluar sebagai juara dari 32 tim. Umumnya, orang pasti akan menjagokan tim-tim yang pernah juara, seperti si Du yang fans beratnya Italia (waktu nonton bareng Italia vs Selandia Baru, sepanjang pertandingan dia misuh-misuh melulu, hahaha xD ). Tapi, kata orang memang ini Piala Dunia yang aneh. Tim-tim mapan secara ajaib dijungkalkan tim-tim antah berantah, atau setidaknya ditahan seri atau menang dengan susah payah. Belum lagi soal gurita peramal.

“Wow, ini kejutan” pikir saya. Daaaan… saya mulai bertaruh untuk para underdog. Contohnya, Korea Utara. Negara yang jadi kejutan di PD 1966 ini membuat tim sekelas Brasil memeras darah (keringat ding…). Selanjutnya, lawan Portugal atau Pantai Gading pasti lebih mudah, yakin saya waktu itu. Siapa nyana Korut harus rela ditekuk 7-0 oleh Portugal, dan kekalahan dari Pantai Gading menyebabkan mereka harus menemui Kim Jong-il lebih cepat…

Cukup. Sekarang mending jagokan tim gede. Match Brasil-Belanda saya jagokan Brasil. Pede saya makin kuat waktu Brasil berhasil curi keunggulan. Di pertandingan yang bikin deg-degan itu, malah Belanda yang melaju ke semifinal T_T Salah dukung kali ya? Nah, saat match Argentina vs Jerman, saya jagokan timnya Maradona. Waktu itu nonton di tempat Pakde saya. “Jagoin wasit aja, gak bakal kalah!” Pakde saya berkilah saat diajak taruhan. Daaaan… saat gol Jerman pertama bersarang (gak sampai sepuluh menit!). Seperti yang sudah dicatat sejarah, Jerman panen gol (4-0), dan para penari Tango mesti ikhlas digilas panser. Sial, diledek Pakde gara-gara muka saya yang masam…

Lalu, hati ini saya mantapkan untuk mendukung… Jerman sebagai juara kali ini! Di pertandingan melawan Spanyol, saya yakin bakal menang (sesumbar…). Dengan track record yang menawan, menumbangkan tim-tim gede dengan selisih gol yang juga gede, lawan Spanyol bisa menang lah. Di pertandingan yang saya lewatkan itu (berhubung besoknya mesti bangun pagi), ternyata hasilnya berkebalikan dengan yang saya harapkan, lagi! Giliran panser yang terguling diseruduk banteng… Hasil yang pedih ini saya ketahui paginya. Shit, ngejagoin dari dulu kok gak pernah bener… Hehehe. Kalah sama gurita.

Nah, untuk final nanti malam (sebenarnya sudah masuk besok dini hari…), saya menjagokan… Belanda! Dengan suatu harapan yang terselubung tentunya. Hehehe… Saya harap “kemujuran” saya dapat membawa sebuah hasil kepada tim yang saya jagokan malam ini.

*senyum licik*

Standard
Selingan

Komik Lawas

Sewaktu kecil dulu, komik apakah yang menjadi kesukaan Anda?

Dunia perkomikan Indonesia dewasa ini memang jauh berbeda dibanding dua puluh tahun yang lalu, setidaknya menurut saya sendiri, dalam artian ragam komik yang beredar. Setidaknya saya boleh mengklaim diri beruntung, karena di kompleks perumahan pegawai perusahaan minyak tempat saya tinggal memiliki perpustakaan, dan di bagian anak-anaknya banyak komik. Komik yang ada bukan seperti komik Jepang yang banyak beredar sepuluh tahun belakangan, tapi komik-komik lawas dari daratan Eropa, yang full colour. Saat itu memang bukan komik baru, karena saat saya pertama kali main ke sana pun kertasnya sudah usang. Tapi, di situlah pertama kali saya jatuh cinta, dan jatuh cinta kepada buku mendahului jatuh cinta kepada lawan jenis.

Komik yang menyita perhatian pertama kali adalah Tintin. Saya masih ingat, judul yang pertama kali saya baca adalah “Tujuh Bola Ajaib”. Dari situ mulai mengenal sumpah serapah Kapten Haddock, yang tetap menjadi favorit saya. Orang di sekeliling sampai tertegun, mendengar kerasnya saya tertawa. Dasar, bocah. Khusus tentang Tintin, saking demennya dengan komik yang satu ini, bapak, paman, dan eyang menjadi tempat “meminta” supaya bocah gila komik ini bisa melengkapi koleksinya.

Judul yang sudah dibaca

Berhubung koleksi Tintin di perpustakaan dekat rumah sangat tidak lengkap, saya mulai berkenalan pula dengan Agen Polisi 212, Spirou, Smurf, Lucky Luke, dan Gaston. Jumlahnya memang tidak banyak di sana, tapi cukup memuaskan. Kembali ke rumah, bapak yang juga senang dengan Asterix mulai menularkan kesukaannya. Berhubung Tintin yang terbitan lama (Indira) semakin sulit ditemukan, nafsu mengoleksi dialihkan ke Asterix. Lagi-lagi, memasuki tahun 2005 Asterix semakin sulit didapat.

Rasa kangen dengan komik-komik Belgia-Perancis itu mulai terobati waktu aktif les di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jogja. Tebak, bagian mana yang sering saya datangi? Di perpustakaannya ada edisi lengkap Tintin, Tanguy-Laverdure, Asterix (sampai judul yang bahkan belum ada terjemahannya ke bahasa Indonesia), Agen 212, Lucky Luke, Smurf, dan banyak tokoh lain yang baru saya tahu keberadaannya. Sayangnya, kemampuan bahasa Perancis yang “nggak banget” membuat saya hanya memelototi gambarnya. Teksnya sih ditebak-tebak saja. Tapi cukuplah.

Andai dari kecil tinggal di Jogja, saya mungkin lebih bahagia lagi. Di Jalan Kaliurang, seberang rumah eyang saya dulu, ada taman bacaan (sekarang mungkin lebih dikenal dengan nama rental buku) “Tintin”, sebelah supermarket Gading Mas (ada yang tahu?). Pas main ke sana, memang lengkap edisi Tintinnya. Sayang, ketika mulai kuliah tahun 2004, taman bacaan “Tintin” itu sudah berubah menjadi toko pulsa. Entah jadi apa sekarang, mungkin toko parfum refill, mengingat perubahan di Jalan Kaliurang pesat sekali. Toko-toko yang dulu biasa saya satroni mungkin sudah pada bubar.

Untuk para penggemar komik Eropa, Gramedia sudah menerbitkan (kembali) beberapa judul, seperti Tintin, Agen 212, dan Lucky Luke. Oh ya, Asterix dan duet pilot Tanguy-Laverdure sebaiknya juga diterbitkan kembali dong 😀

Standard
Selingan

Yellow-Purple 52mm

Minggu lalu seorang teman mengabarkan bahwa toko kamera di Jalan Braga, Bandung, sedang mengobral filter seharga Rp 10.000,- per buahnya. Sidang pembaca yang budiman tentu paham, bahwa filter kamera bukanlah barang murah. Tergerak untuk mengetahui seperti apa lensa yang diobral dengan harga segitu, meluncurlah saya segera ke toko tersebut.

Seperti ini hasilnya…

Eksperimen pertama.

Dan penggunaan lebih lanjut di Ciwalk, saat reuni kecil-kecilan dengan teman lama yang menyandang status pengantin baru 🙂

Gambar berikut, bukan hendak mengiklan atau pamer nongkrong di mana, tapi hanya sekedar objek uji coba.

Sayang, filter yang tersisa di obralan tinggal kombinasi warna kuning-ungu. Kalau ada warna lain, tentu menarik untuk dieksplorasi.

Standard
Review, Selingan

Seli yang Seksi

Sudah seminggu ini saya punya teman kalau jalan-jalan. Dia asik, karena itu enak untuk diajak ke mana saja. Dia juga seksi, kalau jalan dengan dia banyak orang yang melirik (ke dia tentunya, apa sih yang bisa dilihat dari saya? *invisible mode: on). Dia juga tidak menolak saya dekap erat, malah saya tunggangi, saya genjot-genjot sampai puas, dan akhirnya kelelahan. Dia tetap setia. Siapakah dia?

Salah satu genre dalam dunia sepeda adalah SELI, alias sepeda lipat. Bentuknya seperti sepeda (ya iyalah), tapi proporsinya berbeda dari yang biasa kita lihat. Yang saya pakai, Polygon Urbano, memiliki roda 20”. Saya pilih ini agar ringkas ketika dilipat, dan bisa dibawa ke dalam kabin kereta kalau mau jalan-jalan. Sampai di kota tujuan, seli dibuka, dan digowes. Simpel to? Jarang jangkau saya jadi bertambah.

Begini nih penampakannya:

DSC_8498DSC_8499

Continue reading

Standard
Selingan

Mulai Lagi…

Empat bulan blog ini diabaikan. Cukuplah pengabaian itu. Hehehe…
Empat bulan terakhir ini terjadi beberapa peristiwa penting:
1)    Pendadaranku
2)    Jadian
3)    Wisudaku
4)    “Dikembalikan” oleh universitas ke orang tua, alias jadi pengangguran
Saatnya menyegarkan pikiran lagi, mengonsolidasikan diri lagi.

Selamat pagi dunia!

Standard
Insight, Selingan

Langit…

Pelangi. Ia muncul sesaat setelah hujan, menawarkan keindahan setelah kepedihan.
Warna busur raksasa yang terpampang di langit, itukah yang kuinginkan?
Ia muncul setelah hujan, tetapi sirna setelah langit beranjak cerah.

Matahari. Ia menyinari langit, menghangatkan. Benda langit yang menakjubkan.
Ia menawarkan kehidupan, tetapi tenggelam di kala senja.

Aku tidak ingin pelangi. Aku pun tak mengharap matahari. Mereka akan selalu ada.
Ada, tapi takkan selamanya ada.

Langit. Ia begitu sederhana. Ia luas, dan ia menampung segala yang bisa kita
lihat di atas sana. Ia tetap di sana, dan akan selalu ada di sana.

Bukan pelangi, yang muncul sesaat setelah hujan, tapi kemudian sirna…
Bukan pula matahari, yang menerangi dunia, tapi tenggelam di kala senja…
Tetapi langit, yang senantiasa setia memeluk sang bumi…

Standard