Insight, Review

Stand By Me!

Sudah banyak blogger yang menulis review tentang film animasi Doraemon: Stand By Me. Nah, izinkan saya menambahkan satu tulisan lagi. Kali ini bukan tentang bagus-tidaknya film ini, tapi lebih kepada chemistry seorang penonton.

Dora

Melihat posternya saja sudah membuat mata berair

Continue reading

Advertisements
Standard
Review

The Ghost Writer

Ghost writer, adalah istilah untuk penulis profesional yang dibayar untuk menulis literatur yang nantinya akan diaku sebagai karya orang lain. Klien ghost writer kerap kali adalah tokoh-tokoh terkenal seperti selebriti dan pemimpin politik, yang meminta sang “hantu” untuk mengedit tulisan atau bahkan membuatkan seluruh tulisan untuk kemudian diatasnamakan si klien. Pekerjaan yang tidak mudah, karena para ghost writer harus mampu mengejawantahkan pikiran, kebiasaan, keinginan, hingga gaya bahasa sang klien ke dalam tulisan. Menerima tugas ini ibarat memahami dan memerankan watak orang lain untuk kemudian dituangkan dalam kata-kata.

Film ini dibuka dengan penemuan mayat sesosok tak dikenal, yang kemudian diketahui adalah seorang ghost writer. Kematiannya membuka proyek baru bagi sang jagoan kita (diperankan Ewan McGregor, sebagai ghost writer anonim). Tugasnya adalah membuatkan otobiografi untuk mantan perdana menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan). Tak dinyana tugas tersebut menyeret sang ghost writer ke dalam pusaran konflik, tarik-menarik kepentingan antar orang-orang berkuasa, terlebih ketika ia mulai menyelidiki kematian ghost writer sebelumnya. Di akhir cerita, sang ghost writer akhirnya menemukan alasan kenapa mantan perdana menteri itu membuat banyak sekali kebijakan yang pro AS, seperti kasus di mana ia “rela” menyerahkan warga negaranya sendiri yang dituduh terlibat aksi terorisme kepada CIA. Sang ghost writer menemukan keterlibatan dinas intelijen asing yang ternyata mempengaruhi jalan pikiran sang perdana menteri selama bertahun-tahun.

Cerita yang mungkin saja terjadi di dunia nyata? Mungkin saja. Mungkin saja kita malah sedang mengalaminya.

Adaptasi novel ke layar lebar di tangan yang tepat dapat menghasilkan sebuah film yang berkualitas. Jalan cerita di film tentu mengalami perubahan dari novel aslinya, seperti penyederhanaan karakter dan adegan. Hasilnya? Film ini bisa dinikmati tanpa harus merasa terburu-buru berpindah dari satu adegan ke adegan lain, jadi kita tidak merasa menonton sebuah cerita yang dipadatkan. Pendeknya, improvisasi script writer dan sutradara mampu menyesuaikan cerita yang dasarnya kompleks dari sebuah novel ke dalam format media audio-visual, sekaligus memanfaatkan kelebihan media ini untuk membangun ketegangan.

Permulaan hingga pertengahan film ketika konflik dibangun, saya merasakan berada in the middle of nowhere, saat kejadian-kejadian berlangsung di sebuah tempat yang jauh dari mana-mana, sepi, dan hujan badai berlangsung sepanjang adegan. Pada bagian ini alurnya terasa lambat membuat saya sempat mengantuk. Namun ketika sang ghost writer telah menemukan kunci dari misteri ini, ketegangan dalam film mendadak terbangun dan berlanjut hingga akhir cerita. Plotnya bukan jenis yang mudah diprediksi, dan endingnya malah tidak saya duga sama sekali mungkin karena saya sempat tertidur.

Ewan McGregor tetap menjadi salah satu aktor kesukaan saya. Terimakasih pada perannya sebagai Obi-wan Kenobi muda di Star Wars Episode 1 sampai 3. Tanpa itu, mungkin dia luput dari perhatian saya. Prestasinya bukan hanya di Star Wars, Bang Ewan juga telah membuktikan dirinya sebagai aktor watak yang cukup piawai.

Di akhir film ketika muncul nama sutradara, barulah saya mafhum.

Roman Polanski.

*The Ghost Writer memenangkan penghargaan pada 60th Berlin International Film Festival untuk sutradara terbaik.

Standard
Review, Selingan

Seli yang Seksi

Sudah seminggu ini saya punya teman kalau jalan-jalan. Dia asik, karena itu enak untuk diajak ke mana saja. Dia juga seksi, kalau jalan dengan dia banyak orang yang melirik (ke dia tentunya, apa sih yang bisa dilihat dari saya? *invisible mode: on). Dia juga tidak menolak saya dekap erat, malah saya tunggangi, saya genjot-genjot sampai puas, dan akhirnya kelelahan. Dia tetap setia. Siapakah dia?

Salah satu genre dalam dunia sepeda adalah SELI, alias sepeda lipat. Bentuknya seperti sepeda (ya iyalah), tapi proporsinya berbeda dari yang biasa kita lihat. Yang saya pakai, Polygon Urbano, memiliki roda 20”. Saya pilih ini agar ringkas ketika dilipat, dan bisa dibawa ke dalam kabin kereta kalau mau jalan-jalan. Sampai di kota tujuan, seli dibuka, dan digowes. Simpel to? Jarang jangkau saya jadi bertambah.

Begini nih penampakannya:

DSC_8498DSC_8499

Continue reading

Standard
Review

Rumah Danau

Judul di atas adalah terjemahan bebas dan liar dari “The Lake House”. Terjemahan yang lebih puitis mungkin “Rumah di Tepi Danau”, lebih enak dibaca. Postingan ini terinspirasi setelah aku menonton The Lake House-nya Keanu Reeves dan Sandra Bullock.

Alkisah, Alex Wyler (Reeves), seorang arsitek muda membeli sebuah rumah di pinggir danau. Di dalam kotak surat rumah itu, dia menemukan pesan dari penghuni lama, Kate Forster (Bullock). Mereka baru menyadari bahwa mereka sebenarnya terpisah waktu dua tahun! Si penghuni lama berada di masa depan.Didorong rasa ingin tahu masing-masing, mereka saling membalas surat sehingga tanpa disadari, mereka jatuh cinta.

Latar profesi arsiteknya yang membuatku tertarik saat memutuskan menyewa DVD bajakan film ini. Keluarga Wyler adalah arsitek. Ayahnya, Simon Wyler, adalah pemilik biro arsitektur keluarga mereka. Konon, Pak Wyler senior ini sering berdiskusi dengan Frank Lloyd Wright dan Le Corbuzier (siapa ya mereka?). Reputasi sang ayah sendiri tak begitu bagus di mata anak-anaknya, karena seiring kesuksesannya, kesibukan pekerjaan menjauhkannya dari keluarga, yang kemudian membuat sang ibu memutuskan meninggalkannya. Anak-anaknya tidak pernah memaafkannya. Kata-katanya yang berkesan, “For me, she has died since she left the house”. Itu kata-kata Pak Wyler senior saat pemakaman istrinya. Sadis amat ini arsitek.

Diskusi lain yang lebih menarik ada saat Wyler dan Wyler senior mengobrol tentang cahaya menjelang kematiannya. Cahaya, adalah hal yang dapat membuat sebuah karya arsitektur lebih bermakna. Arsitek yang baik tidak mengabaikan lingkungannya, justru memanfaatkan lingkungannya demi kesempurnaan karyanya. Cahaya di Bilbao berbeda dengan di Tokyo, berbeda pula antara Sleman dengan di Bantul sana 😀 Cahaya adalah kuncinya. Sebuah prinsip yang dipegang teguh Pakde Corbuzier.

Terlepas itu, apakah menjadi arsitek berarti menjadi super sibuk, workaholic, “autis”, acuh pada orang lain, dan melupakan keluarga? Apakah semua arsitek seperti itu? Dosen-dosenku tampaknya baik-baik saja. Jadi itu sepertinya hanya kasus khusus saja. Hohohoho… Semoga saja aku kelak tidak mengalami stereotip-stereotip tadi.

Kok jadi banyak menyimpang dari jalan cerita? Lha, habis menurutku kayaknya sudah banyak yang membahas jalan ceritanya, jadi aku bahas dari sisi lain saja. Sisi lain yang dekat dengan kehidupanku sehari-hari.

Kayaknya ketinggalan banget ya ulasannya, berhubung filmnya sendiri udah lama rilisnya…

Cerita roman dengan latar belakang arsitek rupanya menarik juga.

Standard