Jalan-jalan

Di Tepian Rhein

Sudah lama sekali teryata beta absen dari halaman beta sendiri!

Baiklah, baiklah, sebagai tombo kangen dalam membuat postingan, ini beta hadirkan sebuah cuplikan perjalanan…

 

 

Coba tebak di mana 😀 Penebak pertama yang benar akan beruntung mendapatkan doa eksklusif dari beta. Mengingat ini adalah bulan Ramadhan yang nan suci dan penuh berkah, jangan disia-siakan kesempatan ini 😉

Standard
Jalan-jalan

Labirin Bandung

Bandung bagai labirin. Sebagai pendatang yang baru pakai sepeda motor sebulan terakhir, jalan-jalan di Bandung masih berupa trial and error. Gimana nggak, selama setahun sebelum memakai motor, modus transportasi Cuma angkot plus sepeda lipat. Dengan daya jangkau terbatas, saya mengenal Bandung sejauh Caheum dan Stasiun. Dago? Itu mah, makanan sehari-hari…

Hari Rabu dan Kamis kemarin kebetulan ada seminar di Hotel B (sebut saja begitu), di Jalan Gatot Subroto (sebut saja Gatsu). Dengan menggampangkan pencarian jalan, saya telusuri terlebih dulu lewat GoogleEarth. Yak, ketemu! Gatsu, saya datang!

Saat survey pertama untuk mencari jalan ke sana, akhirnya saya malah nyasar. Saya lupa, kalau jalan Asia-Afrika itu searah. Muter-muter deh. Cupunya, berkat kesombongan a la GoogleEarth, saya ogah nanya jalan. Mana waktu itu macet (sepertinya seluruh mobil di Bandung keluar pada waktu yang sama saat itu), dan gerimis pula! Hiih. Pencarian ke arah Gatsu dimulai jam 5 sore, dan diakhiri jam 7 malamnya. Hasilnya: nyasar, dan mission failed.

Tenang, itu belum semua. Sebelum melaju ke arah kos saya di Cisitu pun sempat-sempatnya kehabisan bensin di depan Gedung Sate! Ciloko maneh, gak ada yang jual bensin eceran di daerah situ. Kalau ada, pan lumayan buat sekedar jalan ke pom bensin terdekat. Terpaksalah menuntun sejauh ± 500 m ke pom bensin Suci. Untung jalannya menurun, Saudara-saudara. Tidak ada yang mengharapkan saya berkeringat lebat menuntun motor kan? 😀

Sampai di kos, saya cerita itu ke Bapak, dan dia malah membalas, “Rasakan labirin Bandung!” Walah.

Sekarang kasus kedua. Demi menemani Arie yang udah ngebet ingin tahu lokasi Stadion Siliwangi (buat acara Kickfest, bukan nonton bola), rela lah malam minggu saya dipakai untuk cari jalan ke sana. Ndilalah, kasusnya ya mirip dengan yang pertama. Jalan ke sana awalnya lancar, saat masuk ke Jalan Riau, labirinnya mulai menyesatkan saya. Untungnya kali ini pakai tanya. Setengah jam kemudian ketemulah sang stadion.

Nah, sesudah itu pan rencananya mau ke Gasibu, tapi acara muter-muter nyasarnya juga makin jauh. Sekali lagi, secara sok tahu saya mengarahkan motor ke… Ujung Berung! “He, ini mah ke arah kantor gua!” Teriak Arie. “Muter balik gih!” Sialnya pas dia ngomong “mutar balik” kami sudah masuk ke jalan searah. Muternya makin jauh dong!

Seingat saya, malam itu butuh memutari Riau Junction dua atau tiga kali sebelum kami akhirnya mencapai Gasibu. Parah.

Motornya memang bukan yang ini, tapi helm, jaket, dan orangnya dijamin masih sama kok ;)

Standard
Jalan-jalan

Upside-Down

Belakangan ini aku teringat pada seorang teman nun jauh di sana. Pertemuan kami sudah lama berlalu, tapi momen-momen itu muncul kembali dalam benakku.

Hampir setahun yang lalu, kenalanku, seorang pramuka Polandia, ber-backpacking ria ke Indonesia. Namanya Piotr Zadrozny. Memang sulit diucapkan, dan kebetulan bahasa Polandia gemar mendempetkan banyak konsonan dalam satu kata (seperti Andzej, chuvaj, Gdansk, dan lainnya). Kawan yang satu ini kukenal lewat facebook, dari kawanku yang lain pula.

Continue reading

Standard
Indonesiana, Jalan-jalan

The Town Where I Grew Up

This is the 3rd week since I step this town. Believe it or not, there were a lot of change since I left for college. The neighborhood has changed, and will always, evolving to its would-be-identity. In 1900, this place didn’t exist in our map. Now, it has became a place for many prospectors (I use that terms for anyone who seek fortune here). It’s all started with an exploration.

4blog_duri-24blog_duri-54blog_duri-64blog_duri-7

And this, prospectors from the overseas. There are groups of expatriates in Duri since the beginning of exploration. In our community, we held many event together, to remind about our goals and the importance of relationships. In such place, we can’t live well if we don’t have anybody to share with.

4blog_duri-9

Below, these are pictures of my house, my brother, and my sister. Miss them really much. You won’t know how hard you miss your family until you do.

4blog_duri-3

4blog_duri-44blog_duri-8

And this is me, trying to conquer my own fear…

4blog_duri-10

Standard
Indonesiana, Jalan-jalan

Duri…

22 April 2009.
Akhirnya, setelah sekian lama kembali lagi ke Duri. Duri, di mana itu? Duri adalah sebuah “kota” (kenapa diberi tanda kutip, karena aku juga tidak yakin ini pantas disebut kota, hehehe) di mana aku dibesarkan. Secara KTP memang aku orang Jogja, tapi di tempat inilah pola pikir awalku dibentuk.
Duri awalnya hanya sebuah kamp pengeboran minyak. Di kamp ini, segala kebutuhan hidup pegawai dan keluarganya diusahakan untuk dipenuhi. Wajar sih, kalau tidak begitu, mana ada yang mau tinggal di tengah hutan seperti ini. FYI, jalan antar “kota” yang menghubungkan “kota” ini ke “kota” lain awalnya adalah jalan yang biasa dilalui gajah liar. Lama-kelamaan pola jalan yang menembus hutan ini terbentuk, tinggallah manusia-manusia yang mencoba mencari nafkah di sini mengaspalnya. Tahun 1991 ketika keluargaku boyongan pindah ke sini, ibuku sempat stress. “Di tengah hutan?!” Hahaha…

copy-dsc_0743
Pemandangan yang khas di Duri, apalagi kalau bukan pompa angguk. Benda ini takkan bisa dilepaskan dari benak anak-anak Duri. Waktu masih kecil dulu, bapak sering mengajakku ke ladang minyak. Pompa-pompa yang mirip kuda ini (mirip gagak juga bisa, terutama untuk pompa yang berwarna hitam dengan ujung kuning) digunakan untuk menyedot minyak yang reservoirnya (kantong minyak) tidak terlalu dalam. Untuk reservoir yang dalam, alatnya lain lagi, tapi pompa minyak yang menurutku paling estetis ya pompa angguk ini. Jadi ingat zaman dulu, aku sering minta bapak menggambarkan kuda baja ini. Waktu TK dulu, pompa angguk ini yang sering kugambar, bukan lukisan standar anak TK yang berupa dua gunung itu.
Dalam perjalanan Dumai ke Duri, kebetulan bis yang kutumpangi lewat ladang minyak ini. Kujepret beberapa gambar pompa angguk. Sekedar nostalgia. Pompa-pompa tersedia dalam beberapa model dan ukuran. Bapak dulu sering guyon, “Ini ada pompa bapak sama anak”.

cepret-00351
Aku dua minggu di sini, rehat sejenak dari kehidupan Jogja. Jogja dan Duri sama-sama penting bagiku. Tapi, di Jogja kayaknya agak sulit bisa jogging tanpa ditemani polusi. Hehehe…

Standard