Insight, Review

Stand By Me!

Sudah banyak blogger yang menulis review tentang film animasi Doraemon: Stand By Me. Nah, izinkan saya menambahkan satu tulisan lagi. Kali ini bukan tentang bagus-tidaknya film ini, tapi lebih kepada chemistry seorang penonton.

Dora

Melihat posternya saja sudah membuat mata berair

Continue reading

Advertisements
Standard
Insight

Ceramah Tarawih: Edisi Alim

Bagaimana malam-malam Ramadhan Saudara-saudari sekalian? Semoga senantiasa dipenuhi berkah. Sementara (yeah, sementara, seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya) sebulan ini aktivitas keagamaan kita intensifkan demi menjaring pahala dan mentransformasikan jiwa kita menuju keadaan yang lebih baik. Berharap-harap bukan dosa kan? Apalagi di bulan suci ini, tentunya sah-sah sadja 😀

Ini Ramadhan ketiga saya di Kota Kembang. Untuk Ramadhan kali ini, saya mencoba untuk lebih mengeksplorasi masjid-masjid di seluruh kota. Jadi, saya berbuka dan bertarawih di masjid yang berbeda setiap harinya. Ide ini muncul dari sebuah kebosanan, kok ya sholat, ngincar ta’jilan, maghriban, sampai tarawih setiap hari di masjid yang itu-itu saja setiap harinya, padahal masjid kan tidak cuma itu-itu saja. Sekalian biar lebih mengenal Bandung (keterlaluan nih, dua tahun di sini jarang jalan-jalan).

Nah, jadilah sore ini saya berbuka di masjid (aduh, lupa apa namanya) di dekat Balai Kota, dan melanjutkan shalat isya dan tarawih di Masjid Salman ITB. Ada yang menarik dari ceramah tarawih kali ini. Sebelum ke cuplikan isi ceramah, saya paparkan dulu sebuah hal yang sejak dulu saya yakini, yakni bahwa sebuah pilihan yang kita buat bukanlah sebuah “kebetulan” semata. Maksudnya, ketika kita memilih suatu hal, dengan dasar apapun, pilihan tersebut adalah yang paling sesuai dengan kondisi kita dan datang dengan akibat yang sebenarnya kita perlukan atau harapkan. Continue reading

Standard
Insight

Jangan Lupa Berdoa

Andalan saya saat berjelajah ria di rimba Jakarta adalah Busway Transjakarta. Dari rumah Pakdhe saya di daerah Pasar Minggu, cuma memerlukan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Tanjung Priok. Memang, waktu tempuhnya sangat relatif, tergantung pada kemacetan di jalan dan panjangnya antrian penumpang di halte-halte transit (seperti Dukuh Atas dan Harmoni). Selebihnya, memuaskan bagi saya.

“Segini saja kok puas? Masih kalah jauh dibanding MRT di Singapura!”

Ya jelas lah, barangnya juga berbeda, kebiasaan masyarakat penggunanya berbeda, kerapian sistemnya pun berbeda. Yang membuat saya puas, ya karena fasilitas transportasi publik semacam ini sudah ada di Jakarta. Masih jauh lah untuk mengharapkan ibukota kita memiliki MRT, monorel, atau angkutan lain yang lebih efisien dan nyaman. Dananya kan belum cukup 😀

Membahas mengenai kecelakaan, atau hal-hal di luar perkiraan, tentu Busway tidak bebas dari itu semua. Dengan jalur bus yang berbagi dengan jalan, tentu tidak aneh kalau banyak kendaraan lain yang menyerobot masuk jalur bus. Ini hal yang mengesalkan, tentu saja. Pernah ada mobil yang as rodanya patah pas di jalur Busway. Kalau sepeda motor? Resiko kecelakaannya lebih besar lagi. kecepatan Busway rata-rata 60 km/jam, dengan massa sebesar itu sulit untuk berhenti mendadak.
Ini yang kerap dilupakan orang ketika menerabas jalur Busway. Pengendara lain, maupun penyeberang.
Saya mengamati sebuah stiker kecil yang ditempel di kaca samping pengemudi. Isinya sebuah ajakan bagi pengemudi untuk waspada, dan ingat untuk berdoa.
Efektifkah untuk mengurangi kecelakaan? Mungkin ya. Tapi, manusiawi? Tentu. Kita perlu sentuhan manusiawi di tiap sudut kehidupan 

Standard
Indonesiana, Insight

Ingat Sastra

Zaman saya SMP – SMA dulu, HB Jassin sebagai Paus Sastra Indonesia kerap disinggung. Beberapa kali pula karyanya dibahas di kelas, tetapi tidak intens hingga ke tingkat pemahaman yang mumpuni. Sastrawan dari angkatan Balai Pustaka, 45, Pujangga Baru, beserta karya-karyanya disinggung di kelas pelajaran Bahasa Indonesia, tapi hanya beberapa yang pernah saya baca tuntas. Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Atheis, hanya tiga itu yang seingat saya tuntas terbaca. Malu untuk saya akui 😦

Itu zaman saya sekolah dulu, entah bagaimana di zaman sekarang. Adik saya yang masih SMA lebih sibuk menyiapkan UN dan persiapkan diri ke universitas. Sastra terlupakan? Di sebagian besar sekolah, mungkin. Tapi masih banyak juga guru yang peduli dan memasukkan materi-materi sastra lama Indonesia ke dalam jam pelajaran (apa pun mata pelajarannya), seperti guru pelajaran sejarah dan sosiologi di SMA saya dulu.

Kembali ke hakikat sastra, guru saya dulu berkata bahwa sastra bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sastra merupakan refleksi dan kritik dari keadaan zaman, yang menyisipkan pesan bagi manusia untuk tetap menghargai kehidupan terlepas seberat apa pun hidup itu sendiri. Ironisnya, kondisi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta memang memprihatinkan. Perpustakaan Bung Hatta di Jogja juga sempat begitu, sebelum akhirnya dipindahkan ke perpustakaan pusat UGM. Entah bagaimana kondisinya sekarang, tapi semoga keadaan koleksi-koleksi bukunya menjadi lebih terawat.

Meski sedikit yang masih peduli, dan lebih sedikit lagi yang bersedia melestarikan, semoga karya-karya lawas penuh makna ini masih bisa dinikmati dan diresapi pelajarannya untuk generasi mendatang. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang tunasejarah.

Postingan ini diilhami dari tulisan Mas Iman dan tulisan opini di Kompas hari ini. Jadi ingat janji masa sekolah dulu untuk berburu buku sastra lawas…

Standard
Indonesiana, Insight

Senjakala Gatotkaca

Padang Kurusetra, tempat perang akbar Bharatayudha berlangsung, Gatotkaca berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia pun menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca.

Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah pamannya, Kalabendana, tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu.

Gatotkaca pasrah terhadap keputusan dewata. Namun ia berpesan supaya mayatnya masih bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju. Ia kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu pun musnah bersatu dengan sarungnya, yaitu kayu Mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca.

Gatotkaca telah tewas seketika. Arwah Kalabendana kemudian melemparkan mayatnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkeping-keping tertimpa tubuh Gatotkaca yang meluncur kencang dari angkasa. Akibatnya, pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Kurawa yang berada di sekitarnya.

Sekarang kisah Gatotkaca di zaman modern…

Tahun 1995, Gatotkaca yang perkasa dalam cerita wayang di nusantara menjelma sebagai sebuah karya anak bangsa yang kala itu sangat kita banggakan, sebuah pencapaian teknologi yang luarbiasa bagi sebuah bangsa yang tengah berkembang: pesawat terbang. Saya masih ingat ketika menonton penerbangan perdana N-250 di TVRI, menyaksikan pesawat komuter buatan IPTN lepas landas ke angkasa, dan mendarat dengan sempurna. Pesawat ini menggunakan mesin baling-baling turboprop sebagai penggeraknya, tetapi telah menggunakan sistem kemudi elektronik serta sistem avionik tercanggih di kelasnya saat itu. Jadi, bila N-250 telah mengantongi sertifikasi-sertifikasi dari badan penerbangan internasional dan siap diproduksi massal, diproyeksikan N-250 akan laku keras dan mendominasi penerbangan-penerbangan komuter jarak dekat di seluruh dunia.

Rencana pengembangan N-250 pertama kali oleh pada Paris Air Show 1989. Pembuatan prototipe pesawat komuter dengan teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992 Prototipe pertama terbang selama 55 menit pada 10 Agustus 1995. Menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C, pesawat berbaling-baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turboprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km.

Saya dan N-250 memiliki sebuah ikatan batin. Saya masih ingat tahun 1990 saat masih TK di Jogja, bapak bekerja sebagai insinyur IPTN di Bandung. Setiap dua minggu sekali beliau pulang, dan menceritakan perkembangan proyek N-250. Beliau dengan telaten menerangkan prinsip-prinsip aerodinamika, mesin yang digunakan di prototip pesawat, para ahli yang bekerja, dan betapa jeniusnya Pak Habibie. Di waktu senggang, beliau sering membawa saya ke bandara Adisucipto untuk melihat pesawat lepas landas dan mendarat. Dari sana kesukaan saya akan pesawat terbang tumbuh, dengan berpikir bahwa benda tersebut adalah benda yang paling keren di dunia. Berteknologi tinggi, bisa terbang, bisa bermanuver di angkasa, dan mengagumi sosok pilot-pilot gagah yang menerbangkannya. Sejak saat itu, hingga kelas 3 SMA dapat dipastikan di bagian belakang buku catatan pelajaran manapun, bisa ditemukan gambar pesawat.

Bapak hanya setahun bekerja di IPTN, sebelum akhirnya mendapat pekerjaan di Caltex, Riau. Keputusan yang logis karena secara gaji pun lebih baik. Bapak dan ibu merasa sangat bersyukur saat awal dekade 2000-an melihat berita tentang IPTN yang merumahkan para insinyurnya, para pekerja keras yang dari tangan-tangan dan otak mereka telah tercipta sang Gatotkaca. Nasib yang tak tentu membayangi mereka. Yang menyedihkan, meski secara keilmuan dan keahlian tinggi, namun tidak ada pekerjaan yang layak untuk mereka di republik ini. Di tahun-tahun itu juga kita hanya bisa menonton para ahli penerbangan kita berhamburan keluar negeri mencari penghidupan. Satu generasi ahli penerbangan Indonesia telah hilang.

Tahun 2010, saya menemani bapak ke Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan jarak dekat Bandung – Jogja. Maskapai yang melayani trayek ini adalah Wings Air, menggunakan ATR-72 buatan Perancis. Pada iklannya, Wings Air mempromosikan penggunaan ATR-72 sebagai pesawat jarak dekat yang nyaman dan canggih. Saya bertanya pada bapak, bukankah kelas ATR-72 dan N-250 sama? Daripada beli mahal dari asing, kenapa tidak gunakan saja N-250, yang bisa sekalian menghidupkan kembali IPTN? Beliau menjawab, N-250 memiliki keunggulan dari ATR-72: lahir lebih dulu. Kalau saja N-250 dilanjutkan hingga taraf produksi komersil, pesawat buatan nusantara ini bisa merajai pasaran untuk kelasnya.

Sayangnya, N-250 lahir di waktu yang salah. Hanya tiga tahun setelah penerbangan perdananya, krisis moneter dan instabilitas politik mengacaukan semuanya. Generasi yang seumuran dengan saya tentu masih ingat keadaan saat itu. Kondisi kacau dan serba kekurangan itu yang akhirnya memandulkan IPTN, menempatkan proyek N-250 pada nasib yang tak pasti. Pemerintahan kala itu mengiyakan tuntutan IMF untuk menonaktifkan proyek ini agar bantuan keuangan dapat cair. Kala itu banyak hal lain yang menjadi prioritas.

Kiprah bapak di IPTN memang pendek, hanya setahun, tapi itu adalah tahun yang penuh kesan di mana beliau menyaksikan sendiri kemampuan rekan-rekan bangsanya menapaki sebuah proyek berteknologi tinggi. Bapak saya mengenang kerja keras perencanaan, perhitungan, perakitan, uji coba para rekannya agar sang Gatotkaca bisa terbang. “Kamu tahu, duit yang dipakai untuk membantu bank-bank nakal saat krisis moneter menghabiskan lebih banyak, jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk menolong IPTN” ucapnya sambil menatap hangar dan gedung kantor PT DI di seberang landas pacu. Bapak berdiri termenung, memandang kosong bangunan yang menjadi kantornya dahulu dari balik kaca ruang tunggu.

Melihat gedung PT DI sekarang, saya membandingkannya dengan dua puluh tahun yang lalu ketika digandeng bapak masuk ke hangarnya. Kala itu penuh aktivitas, para pegawai dengan semangat bekerja membangun instrumen kebanggaan negeri.

Saya memiliki kenangan khusus akan Gatotkaca ini, tentang perjuangan bapak di dalamnya, yang menjadi pemicu saya untuk mengagumi pesawat dan mengisi imajinasi masa kecil dengan dunia dirgantara. Laksana di cerita wayang, jasad Gatotkaca yang sudah tak bernyawa pun masih dapat digunakan untuk membunuh prajurit Kurawa. N-250 yang mati suri, mungkinkah dapat menunjukkan kesaktiannya dari dalam hangar?Semoga Gatotkaca akan terbangun, kemudian menggeliat, terbang, dan memenuhi takdirnya semula untuk mengelilingi dunia.

 

Standard
Insight

Mensyukuri Kekalahan

Setelah mensyukuri kematian, sekarang giliran mensyukuri kekalahan. Apa pasal? Begini…
Bulan Ramadhan yang penuh berkah, sepatutnya diisi dengan berbagai ibadah. Puasa, kita menahan hawa nafsu untuk melatih jiwa kita yang lemah agar semakin kuat menjalani hidup, sekaligus mencoba mengakrabkan diri dengan Allah. Ibadah khas lainnya, shalat tarawih, dilakoni tiap malam agar rumah ibadah selalu ramai, mencoba mengingatkan orang-orang bahwa, “Hei, ternyata seru juga lho nongkrong malem-malem di mesjid, dapet pahala lagi!”. Begitulah. Waktu SD dulu kita diberi tugas oleh guru agama (islam tentunya) mencatat ceramah tarawih. Maksudnya jelas, supaya anak-anak bandel ini belajar menyukai tarawih. Dari kecil dulu, buku itu tidak pernah penuh kuisi 😀 Dari 30 malam Ramadhan, jika terisi setengahnya saja bisa-bisa aku mengadakan syukuran. Nah, selepas SD, ketika mencatat ceramah tarawih tidak lagi diwajibkan, mulai deh aku malas-malasan. Zaman SMP dulu biasalah, teman-temanku berangkat ke mesjid, tidak ikut tarawih, tapi malah nongkrong, ngobrol, merokok. Jadi, waktu itu aku menghadapi dua pilihan yang sama menariknya 😀
Ramadhan tahun ini ibadahku empot-empotan. Jangankan tarawih dan menamatkan Quran, shalat wajib saja masih bolong (Astaga, saat Ramadhan? Ya!). Yang bisa “dibanggakan” adalah puasaku yang full. Entah diterima atau tidak oleh Yang Menyuruh Berpuasa, menurutku sendiri puasaku belum sempurna. Aku masih saja emosian, berpikiran kotor, dan hal-hal lain yang mestinya aku hindari ketika berpuasa. Huh.

Biasa lah, mendekati hari H, iklan-iklan mengusung kalimat “Merayakan Kemenangan”, “Mensyukuri Kemenangan” (halah, kontras dengan judul), “dsb”. Intinya, berpuasa 30 hari dianggap sebagai “zona perang”, dan di ujung 30 hari itu “kita menang”. Belum pernah diselidiki atau direnungkan, kita betul-betul menang atau sekedar gencatan senjata? Atau kita dibohongi bahwa kita menang, tapi sebenarnya kalah?
Jadi di hari “H” besok, aku hendak mengakui kekalahanku pada Yang Memerintahkan Berpuasa. Aku belum cukup baik untuk memenangkan perang ini. Mungkin tahun depan. insyaAllah.

Standard
Insight, Jalan-jalan

Travel…

21 April 2009
Hari Kartini ya? Selamat untuk para wanita Indonesia! Beruntung bangsa kita punya Hari Kartini, setiap tahun ada hari di mana kita diingatkan untuk mengevaluasi diri, sudah sejauh mana kita mengenal pakaian-pakaian adat kita. Halah. Mentang-mentang tiap 21 April untuk anak-anak kecil diadakan lomba busana adat daerah… Tapi bukan itu intinya. Saia yakin Anda semua sudah paham 😀
Sore ini berangkat ke Jakarta pakai travel, berusaha mengejar pesawat ke Riau yang berangkat jam 7 pagi. Artinya, jam 6 adalah batas waktu check in. Keburu gak ya? Di Jogja cuma ada dua biro travel yang bersedia berangkat sore (bukan malam) supaya orang-orang macam diriku bisa sampai tujuan tepat waktu, yaitu ******** dan ** *****.
Sebenarnya hampir saja batal berangkat, karena sampai jam 1 siang hari ini baru dua orang penumpang. Untuk berangkat, minimal ada tiga penumpang. Syukurlah, jam 1.30 dipastikan aku berangkat…
Penumpang satu, seorang ibu yang duduk di sebelahku, ingin mengunjungi saudaranya yang sakit jantung. Kebetulan ibu ini “rame” senang sekali bercerita, jadi aku tidak merasa kesepian. Jadi, iparnya sudah tiga bulanan dirawat, gara-gara penyakit jantung yang terkomplikasi menjadi trio: jantung-hati-ginjal. Konon di masa mudanya, si pasien memiliki temperamen yang meledak-ledak, suka merokok. Bhhh… Jangan ditiru lah.
Penumpang kedua, seorang pemuda yang baru lulus SMK. “Ke Cijantung, mau cari kerja” katanya. “Jadi tentara” Wow, bagus untukmu.
Supirnya, seperti supir travel pada umumnya, marmos. Diajak ngobrol, menggumam. Ditanyai, dijawab dengan kasar. Saia yakin tidak semua seperti itu, tapi kebetulan saja tiap kali naik travel dapat supir yang demikian 😀
Sekitar jam 8-an, di daerah Karanganyar, Kebumen, aku melihat kerumunan orang di tepi jalan. Astaga, ada kecelakaan. Dua pengendara motor (sepertinya) tewas di tempat. Bukan pemandangan yang menyenangkan. Apa mereka tahu bahwa malam itu akan menjadi saat-saat terakhir mereka? Mungkin saja mereka Cuma dua pemuda yang pergi ke warung, tanpa menyadari apa pun, dan kini jiwa mereka telah bertualang ke alam lain… Aku berusaha tetap tenang.
22 April 2009
Dini hari, macet di Subang, Jawa Barat. Waduh, kukira bakal telat sampai bandara. Aku berdoa.
Jam 5 pagi baru masuk tol Cikampek. Jam 5.30 masih di tol. Astaga. Aku sudah mulai panik, mana pada jam yang sama si supir membawa mobil menepi. Merokok. Tidaaak!!!
Jam 5.45, sudah mulai masuk jalan ke Halim. Syukurlah.
Jam 6. Check in. pas banget.
Jam 7. Terbang 😀

Standard