Insight, Review

Stand By Me!

Sudah banyak blogger yang menulis review tentang film animasi Doraemon: Stand By Me. Nah, izinkan saya menambahkan satu tulisan lagi. Kali ini bukan tentang bagus-tidaknya film ini, tapi lebih kepada chemistry seorang penonton.

Dora

Melihat posternya saja sudah membuat mata berair

Sejak pertama tahu Doraemon: Stand By Me bakal rilis di bulan Desember 2014, saya dan istri (update 1!) yang menggemari komiknya sudah berencana untuk menontonnya begitu tayang di bioskop. Acara nonton kami terlaksana sih, tepatnya sebulan setelah pertama tayang di bioskop Jakarta. Karena kesibukan kerja, mengurus anak (update 2!), dan acara pindah rumah (update 3!), kami baru bisa menyempatkan nonton kemarin, jam 23.45. Yak, kami nonton di satu hari dan selesai di hari berikutnya.

Ini bukan film Doraemon layar lebar pertama. Beberapa film Doraemon seri petualangan sudah pernah tayang di bioskop Indonesia sebelumnya. Bedanya, Doraemon: Stand By Me membawakan cerita dari seri komik aslinya (bukan seri petualangan), dimulai dari perjumpaan pertama Nobita dengan Doraemon hingga perpisahan mereka (ingat komik Dora jilid 6, ups spoiler!). Satu bedanya lagi, film ini menggunakan teknik animasi 3D hasil render komputer.

Apa yang hendak saya sampaikan tentang film Doraemon ini? Apa yang menjadikan Doraemon spesial. Bila mengesampingkan perasaan seorang fans, film ini rasanya berjalan terburu-buru. Nobita dikenalkan ke audiens sebagai anak yang payah, sering terlambat berangkat sekolah, nilai ulangannya jelek, tidak pandai olahraga, dan selalu sial di kesehariannya. Lalu, sejak Doraemon masuk ke dalam kehidupannya ada banyak petualangan baru dan kualitas hidupnya sebagai seorang anak meningkat signifikan. Karakter ibunya, teman-teman satu gengnya, tidak muncul secara detail seperti yang kita jumpai di komik. Hubungan antar tokoh terasa hanya satu sisi. Misalnya hubungan Giant dan Suneo dengan Nobita yang tergambarkan selalu sebagai penindas dan tertindas. Hal ini dapat dipahami, tidaklah mudah memasukkan berjilid-jilid komik ke dalam sebuah film berdurasi 95 menit dan mengharapkan karakter-karakter tokoh yang muncul berkesan di benak kita. Maksud saya adalah, film ini lebih bisa dinikmati oleh orang yang sudah kenal dekat dengan karakter-karakter di Doremon universe sebelumnya.

Nah, sebagai pengikut sekte Dora sejak lama, referensi-referensi dalam film ini bisa saya tangkap. Gadget-gadget ajaib Doraemon dan adegan-adegannya saya tahu persis diambil dari komik. Justru inilah nilai lebihnya. Film ini memainkan sisi emosional saya. Adegan Nobita terlambat bangun mampu membuat saya tersenyum, dan adegan Doraemon menyaksikan Nobita menang berkelahi melawan Giant membuat mata saya sedikit berair. Cerita itu sudah saya baca berkali-kali di komik, dan itu sudah bertahun-tahun lampau, menyaksikannya hadir sebagai film membangkitkan rasa kangen. Seolah bertemu sahabat lama.

Doraemon: Stand By Me mungkin lebih ditujukan kepada para fans lama si robot kucing ini. Fans yang sudah berumur (yang mengikutinya sejak terbit pertama di dekade 1970-an) bisa mengenalkannya kepada juniornya. Atau, sekedar bernostalgia. Mengingat-ingat masa yang mereka jalani ketika menjadi pembaca setia Doraemon.

At last, we can see the true quality of this man

At last, we can see the true quality of this man

Ngomong-ngomong, sudah lama ya sejak saya memposting tulisan terakhir di blog ini, nyaris 4 tahun. Banyak perubahan yang terjadi dalam hidup. Tapi, itu cerita untuk tulisan-tulisan berikutnya.

Advertisements
Standard

One thought on “Stand By Me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s