Insight

Jangan Lupa Berdoa

Andalan saya saat berjelajah ria di rimba Jakarta adalah Busway Transjakarta. Dari rumah Pakdhe saya di daerah Pasar Minggu, cuma memerlukan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Tanjung Priok. Memang, waktu tempuhnya sangat relatif, tergantung pada kemacetan di jalan dan panjangnya antrian penumpang di halte-halte transit (seperti Dukuh Atas dan Harmoni). Selebihnya, memuaskan bagi saya.

β€œSegini saja kok puas? Masih kalah jauh dibanding MRT di Singapura!”

Ya jelas lah, barangnya juga berbeda, kebiasaan masyarakat penggunanya berbeda, kerapian sistemnya pun berbeda. Yang membuat saya puas, ya karena fasilitas transportasi publik semacam ini sudah ada di Jakarta. Masih jauh lah untuk mengharapkan ibukota kita memiliki MRT, monorel, atau angkutan lain yang lebih efisien dan nyaman. Dananya kan belum cukup πŸ˜€

Membahas mengenai kecelakaan, atau hal-hal di luar perkiraan, tentu Busway tidak bebas dari itu semua. Dengan jalur bus yang berbagi dengan jalan, tentu tidak aneh kalau banyak kendaraan lain yang menyerobot masuk jalur bus. Ini hal yang mengesalkan, tentu saja. Pernah ada mobil yang as rodanya patah pas di jalur Busway. Kalau sepeda motor? Resiko kecelakaannya lebih besar lagi. kecepatan Busway rata-rata 60 km/jam, dengan massa sebesar itu sulit untuk berhenti mendadak.
Ini yang kerap dilupakan orang ketika menerabas jalur Busway. Pengendara lain, maupun penyeberang.
Saya mengamati sebuah stiker kecil yang ditempel di kaca samping pengemudi. Isinya sebuah ajakan bagi pengemudi untuk waspada, dan ingat untuk berdoa.
Efektifkah untuk mengurangi kecelakaan? Mungkin ya. Tapi, manusiawi? Tentu. Kita perlu sentuhan manusiawi di tiap sudut kehidupan 

Advertisements
Standard

4 thoughts on “Jangan Lupa Berdoa

  1. JengOnter says:

    Penumpang pun perlu berdoa sebelum naik kendaraan yang ditumpanginya. ^_^
    Intinya: semua aktivitas perlu diawali dengan doa. Maling aja ada yang berdoa dulu, kok… πŸ˜€
    Btw, I love that “Punakawan” picture… πŸ˜‰

  2. Tengkyu Mbak No πŸ˜€
    Stiker tadi mungkin respon dari kecelakaan fatal yang menimpa siswa SD. Waktu itu pengemudinya mungkin tidak bisa lagi menghentikan laju bus atau membelokkan arah, dan terjadilah…
    Wah, kalau maling bisa berdoa sebelum “bekerja”, bisa baca basmalah dulu sebelum korupsi πŸ˜€

  3. frJauhari says:

    Busway ibarat masih bayi, butuh dilindungi, kalau ndak bisa-bisa impian transportasi masal yang nyaman ndak bisa tercapai, semua terbunuh dalam cangkangnya..

    Btw itu pintu supir busway sampe retak gitu??? 😯

    • Mencita-citakan transportasi massal yang ramah terhadap penggunanya, hal yang wajar untuk kita warga kota. Menurut saya, busway sendiri sudah cukup baik (jaringan halte, kondisi bus). Yang perlu dibenahi adalah kualitas operatornya (pengemudi dan penjaga di dalam bus), penambahan armada (supaya tidak melulu telat atau penuh di jam-jam puncak). Kalau Jakarta dan kota-kota besar lain punya semacam MRT, lebih sip lagi tentunya πŸ™‚
      Yah, saya malah baru mengamati pintu yang retak itu 😎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s