Review

The Ghost Writer

Ghost writer, adalah istilah untuk penulis profesional yang dibayar untuk menulis literatur yang nantinya akan diaku sebagai karya orang lain. Klien ghost writer kerap kali adalah tokoh-tokoh terkenal seperti selebriti dan pemimpin politik, yang meminta sang “hantu” untuk mengedit tulisan atau bahkan membuatkan seluruh tulisan untuk kemudian diatasnamakan si klien. Pekerjaan yang tidak mudah, karena para ghost writer harus mampu mengejawantahkan pikiran, kebiasaan, keinginan, hingga gaya bahasa sang klien ke dalam tulisan. Menerima tugas ini ibarat memahami dan memerankan watak orang lain untuk kemudian dituangkan dalam kata-kata.

Film ini dibuka dengan penemuan mayat sesosok tak dikenal, yang kemudian diketahui adalah seorang ghost writer. Kematiannya membuka proyek baru bagi sang jagoan kita (diperankan Ewan McGregor, sebagai ghost writer anonim). Tugasnya adalah membuatkan otobiografi untuk mantan perdana menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan). Tak dinyana tugas tersebut menyeret sang ghost writer ke dalam pusaran konflik, tarik-menarik kepentingan antar orang-orang berkuasa, terlebih ketika ia mulai menyelidiki kematian ghost writer sebelumnya. Di akhir cerita, sang ghost writer akhirnya menemukan alasan kenapa mantan perdana menteri itu membuat banyak sekali kebijakan yang pro AS, seperti kasus di mana ia “rela” menyerahkan warga negaranya sendiri yang dituduh terlibat aksi terorisme kepada CIA. Sang ghost writer menemukan keterlibatan dinas intelijen asing yang ternyata mempengaruhi jalan pikiran sang perdana menteri selama bertahun-tahun.

Cerita yang mungkin saja terjadi di dunia nyata? Mungkin saja. Mungkin saja kita malah sedang mengalaminya.

Adaptasi novel ke layar lebar di tangan yang tepat dapat menghasilkan sebuah film yang berkualitas. Jalan cerita di film tentu mengalami perubahan dari novel aslinya, seperti penyederhanaan karakter dan adegan. Hasilnya? Film ini bisa dinikmati tanpa harus merasa terburu-buru berpindah dari satu adegan ke adegan lain, jadi kita tidak merasa menonton sebuah cerita yang dipadatkan. Pendeknya, improvisasi script writer dan sutradara mampu menyesuaikan cerita yang dasarnya kompleks dari sebuah novel ke dalam format media audio-visual, sekaligus memanfaatkan kelebihan media ini untuk membangun ketegangan.

Permulaan hingga pertengahan film ketika konflik dibangun, saya merasakan berada in the middle of nowhere, saat kejadian-kejadian berlangsung di sebuah tempat yang jauh dari mana-mana, sepi, dan hujan badai berlangsung sepanjang adegan. Pada bagian ini alurnya terasa lambat membuat saya sempat mengantuk. Namun ketika sang ghost writer telah menemukan kunci dari misteri ini, ketegangan dalam film mendadak terbangun dan berlanjut hingga akhir cerita. Plotnya bukan jenis yang mudah diprediksi, dan endingnya malah tidak saya duga sama sekali mungkin karena saya sempat tertidur.

Ewan McGregor tetap menjadi salah satu aktor kesukaan saya. Terimakasih pada perannya sebagai Obi-wan Kenobi muda di Star Wars Episode 1 sampai 3. Tanpa itu, mungkin dia luput dari perhatian saya. Prestasinya bukan hanya di Star Wars, Bang Ewan juga telah membuktikan dirinya sebagai aktor watak yang cukup piawai.

Di akhir film ketika muncul nama sutradara, barulah saya mafhum.

Roman Polanski.

*The Ghost Writer memenangkan penghargaan pada 60th Berlin International Film Festival untuk sutradara terbaik.

Advertisements
Standard