Selingan

Tebak Pemenang

Piala Dunia 2010 akan berakhir malam ini! *secara teknis besok dini hari*

Apakah tim yang Anda jagokan sejak awal bertahan sampai final? Bicara soal tebak-menebak, menebak pemenang dari dua tim yang bertanding tentu lebih gampang dari menebak yang bakal keluar sebagai juara dari 32 tim. Umumnya, orang pasti akan menjagokan tim-tim yang pernah juara, seperti si Du yang fans beratnya Italia (waktu nonton bareng Italia vs Selandia Baru, sepanjang pertandingan dia misuh-misuh melulu, hahaha xD ). Tapi, kata orang memang ini Piala Dunia yang aneh. Tim-tim mapan secara ajaib dijungkalkan tim-tim antah berantah, atau setidaknya ditahan seri atau menang dengan susah payah. Belum lagi soal gurita peramal.

“Wow, ini kejutan” pikir saya. Daaaan… saya mulai bertaruh untuk para underdog. Contohnya, Korea Utara. Negara yang jadi kejutan di PD 1966 ini membuat tim sekelas Brasil memeras darah (keringat ding…). Selanjutnya, lawan Portugal atau Pantai Gading pasti lebih mudah, yakin saya waktu itu. Siapa nyana Korut harus rela ditekuk 7-0 oleh Portugal, dan kekalahan dari Pantai Gading menyebabkan mereka harus menemui Kim Jong-il lebih cepat…

Cukup. Sekarang mending jagokan tim gede. Match Brasil-Belanda saya jagokan Brasil. Pede saya makin kuat waktu Brasil berhasil curi keunggulan. Di pertandingan yang bikin deg-degan itu, malah Belanda yang melaju ke semifinal T_T Salah dukung kali ya? Nah, saat match Argentina vs Jerman, saya jagokan timnya Maradona. Waktu itu nonton di tempat Pakde saya. “Jagoin wasit aja, gak bakal kalah!” Pakde saya berkilah saat diajak taruhan. Daaaan… saat gol Jerman pertama bersarang (gak sampai sepuluh menit!). Seperti yang sudah dicatat sejarah, Jerman panen gol (4-0), dan para penari Tango mesti ikhlas digilas panser. Sial, diledek Pakde gara-gara muka saya yang masam…

Lalu, hati ini saya mantapkan untuk mendukung… Jerman sebagai juara kali ini! Di pertandingan melawan Spanyol, saya yakin bakal menang (sesumbar…). Dengan track record yang menawan, menumbangkan tim-tim gede dengan selisih gol yang juga gede, lawan Spanyol bisa menang lah. Di pertandingan yang saya lewatkan itu (berhubung besoknya mesti bangun pagi), ternyata hasilnya berkebalikan dengan yang saya harapkan, lagi! Giliran panser yang terguling diseruduk banteng… Hasil yang pedih ini saya ketahui paginya. Shit, ngejagoin dari dulu kok gak pernah bener… Hehehe. Kalah sama gurita.

Nah, untuk final nanti malam (sebenarnya sudah masuk besok dini hari…), saya menjagokan… Belanda! Dengan suatu harapan yang terselubung tentunya. Hehehe… Saya harap “kemujuran” saya dapat membawa sebuah hasil kepada tim yang saya jagokan malam ini.

*senyum licik*

Standard
Jalan-jalan

Labirin Bandung

Bandung bagai labirin. Sebagai pendatang yang baru pakai sepeda motor sebulan terakhir, jalan-jalan di Bandung masih berupa trial and error. Gimana nggak, selama setahun sebelum memakai motor, modus transportasi Cuma angkot plus sepeda lipat. Dengan daya jangkau terbatas, saya mengenal Bandung sejauh Caheum dan Stasiun. Dago? Itu mah, makanan sehari-hari…

Hari Rabu dan Kamis kemarin kebetulan ada seminar di Hotel B (sebut saja begitu), di Jalan Gatot Subroto (sebut saja Gatsu). Dengan menggampangkan pencarian jalan, saya telusuri terlebih dulu lewat GoogleEarth. Yak, ketemu! Gatsu, saya datang!

Saat survey pertama untuk mencari jalan ke sana, akhirnya saya malah nyasar. Saya lupa, kalau jalan Asia-Afrika itu searah. Muter-muter deh. Cupunya, berkat kesombongan a la GoogleEarth, saya ogah nanya jalan. Mana waktu itu macet (sepertinya seluruh mobil di Bandung keluar pada waktu yang sama saat itu), dan gerimis pula! Hiih. Pencarian ke arah Gatsu dimulai jam 5 sore, dan diakhiri jam 7 malamnya. Hasilnya: nyasar, dan mission failed.

Tenang, itu belum semua. Sebelum melaju ke arah kos saya di Cisitu pun sempat-sempatnya kehabisan bensin di depan Gedung Sate! Ciloko maneh, gak ada yang jual bensin eceran di daerah situ. Kalau ada, pan lumayan buat sekedar jalan ke pom bensin terdekat. Terpaksalah menuntun sejauh ± 500 m ke pom bensin Suci. Untung jalannya menurun, Saudara-saudara. Tidak ada yang mengharapkan saya berkeringat lebat menuntun motor kan? 😀

Sampai di kos, saya cerita itu ke Bapak, dan dia malah membalas, “Rasakan labirin Bandung!” Walah.

Sekarang kasus kedua. Demi menemani Arie yang udah ngebet ingin tahu lokasi Stadion Siliwangi (buat acara Kickfest, bukan nonton bola), rela lah malam minggu saya dipakai untuk cari jalan ke sana. Ndilalah, kasusnya ya mirip dengan yang pertama. Jalan ke sana awalnya lancar, saat masuk ke Jalan Riau, labirinnya mulai menyesatkan saya. Untungnya kali ini pakai tanya. Setengah jam kemudian ketemulah sang stadion.

Nah, sesudah itu pan rencananya mau ke Gasibu, tapi acara muter-muter nyasarnya juga makin jauh. Sekali lagi, secara sok tahu saya mengarahkan motor ke… Ujung Berung! “He, ini mah ke arah kantor gua!” Teriak Arie. “Muter balik gih!” Sialnya pas dia ngomong “mutar balik” kami sudah masuk ke jalan searah. Muternya makin jauh dong!

Seingat saya, malam itu butuh memutari Riau Junction dua atau tiga kali sebelum kami akhirnya mencapai Gasibu. Parah.

Motornya memang bukan yang ini, tapi helm, jaket, dan orangnya dijamin masih sama kok ;)

Standard