Indonesiana

Sebuah Sejarah Alternatif

B . O . D . O . H .

Kita bodoh bila tidak mau belajar dari sejarah. Dari sejarah, kita bisa mengetahui tipikal karsa manusia di bumi Indonesia ini, dan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi. Pola kejadian yang sama senantiasa berulang. Pun begitu dengan 1965.

PKIAwan gelap menyelimuti negeri ini pasca bulan September 1965. Kejadian pemicunya memang kecil, tapi dampaknya luar biasa. Dampaknya terasa hingga puluhan tahun sesudahnya, membuat sekelompok orang meraih untung, dan kelompok lainnya menanggung derita. Bagi saya, titik balik dalam sejarah yang satu itu menyakitkan. Apakah karena saya berada dalam kelompok yang kalah? Tidak. Karena titik balik itu menjadikan sekelompok orang yang tidak seharusnya berkuasa menjadi mahakuasa, menghancurleburkan masa depan bangsa lebih dari yang kita perkirakan.

Kita lihat…

Indonesia tahun 1960-an, negeri ini sedang membangun. Di Jakarta, Monumen Nasional mulai dibangun. Angkatan bersenjata kita menunjukkan taringnya. Angkatan Udara republik ini malah menjadi yang terkuat di belahan dunia Selatan, melampaui Australia. PSSI disegani di Asia. Di bidang diplomasi, lobi Indonesia kuat, dan disegani banyak negara. Beberapa negara malah menjadikan Indonesia contoh. Konferensi Asia Afrika, New Emerging Forces, menunjukkan Indonesia percaya diri menantang kekuatan-kekuatan besar dunia. Meski kepemimpinan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno nyaris absolut dan kerap membahayakan nasib bangsa ini dengan sikap politiknya, setidaknya bangsa ini memiliki harga diri. Namun yang lebih penting, bangsa kita sedang dibentuk, nation building sedang berlangsung. Bung Karno memompa kepercayaan diri bangsa ini begitu besar. Dengan kepercayaan diri yang begitu kuat, bangsa ini menunjukkan harapan yang cerah di masa depan.

Indonesia tahun 2000-an, negeri ini kesulitan menambal-sulam masalah demi masalah yang diakibatkannya sendiri. Di Jakarta, Monumen Nasional telah menjadi landmark. Banyak gedung-gedung tinggi menghiasi kota. Di bidang diplomasi, lobi Indonesia lemah, terlihat saat negeri ini berkali-kali dilecehkan negara tetangga yang dulu ketakutan setengah mati dengan negeri ini. Kekayaan alam telah banyak diolah, tapi yang diuntungkan bukanlah rakyat banyak, hanya rakyat sedikit ditambah kawan-kawan mereka dari luar negeri. Masalah lingkungan? Hutan rusak, sungai tercemar, banyak hewan hampir punah. Angkatan bersenjata kita? Angkatan Darat lumayanlah. Angkatan Udara yang dulu pernah membuat Australia cemas kini dilecehkan negara tetangga akibat seringnya pesawat jatuh tanpa sebab jelas. PSSI bahkan tidak bisa bersuara di tingkat Asia Tenggara. Kepribadian masyarakat? Jangan tanya, kita sudah sama-sama tahu. Atau, tanya saja pada Miyabi. Kepribadian yang buruk itu yang justru membuat kita seperti sekarang ini.

Jadi, kalau dipikir-pikir, patutlah kita menyesali terjadinya peristiwa itu. Setidaknya saya, bila yang lain tidak mau. Nation building kita dirusak bahkan sebelum prosesnya sendiri selesai, digantikan self-destruction yang intens selama 32 tahun. Jadi secara jujur, YA, SAYA MENYESALINYA, SAYA MENYESALI BERKUASANYA ORDE BARU! Tentu, dengan anggapan masa depan bangsa ini sesuai rencana Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno (setidaknya dia punya bayangan akan sebuah bangsa yang besar, tidak seperti penerus berikutnya). Saya jadi membayangkan sebuah sejarah alternatif…

Indonesia (alternatif) tahun 2000-an, menjadi negara yang sangat diperhitungkan. Angkatan bersenjata Indonesia di Asia hanya kalah dari Cina. Jakarta tidak dipenuhi pencakar langit, tapi setidaknya kotanya teratur. GANEFO diadakan empat tahunan, menjadi saingan berat olimpiade. Minyak, gas, emas, meski tetap saja tidak bisa dinikmati rakyat banyak, paling tidak diambil dan diolah bangsa sendiri. Nation building telah rampung, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang percaya diri, pekerja keras dan cerdas. Selera masyarakat juga lebih baik dan cerdas, terbukti ibu-ibu lebih suka menonton teater daripada sinetron, dan para pemuda lebih suka berkegiatan pramuka daripada menonton bokep.

Tapiii…. itu berarti mengandaikan Soviet tidak runtuh, PKI tidak macam-macam, dan Bung Karno tetap waras di usianya yang sudah 110 tahun. Pak Harto bolehlah jadi KSAD, asal bukan presiden. Korupsi tetap ada, tapi mungkin tidak separah sekarang.

Bah, itu cuma pengandaian belaka. Kelanjutan pasca G30S dalam sejarah alternatif versi saya mungkin tidak seideal yang saya bayangkan. Saya juga tidak mampu merubah keadaan, karena mesin waktu belum ditemukan. Tapi bayangkan saja bila alternatif itu bisa kita nikmati saat ini, detik ini. Keadaan pasti jauh berbeda.

Kini kita tahu kesalahan kita, nation building yang harus di-rebuild lagi (gara-gara pembangunannya dirusak oleh “Pembangunan” berseri I-VII). Seandainya tahun 1965 dulu sudah ada facebook, twitter, plurk, dan lain-lainnya, mungkinkah tragedi gelap itu akan terjadi?

Advertisements
Standard

5 thoughts on “Sebuah Sejarah Alternatif

  1. Whatever.
    Jadi ingat salah satu bagian “20th Century Boy”, ketika penguasa yang lalim mendapatkan kekuasaan, kemudian media dikontrol ketat, akhirnya semua musuh politik dijadikan monster, sementara sejarah menjadi gelap dan masyarakat ditutupi haknya untuk memperoleh kebenaran.
    Mungkin ilhamnya dari Indonesia?

    • dengan departemen apa itu, penerangan ya? 😛
      Informasi tersaring dan satu arah, hanya versi pemerintah.

      Sekarang, bebas lepas, tidak kelihatan disaring, tapi kok isinya banyak fokus ke konsumtif dan kekerasan saja ya?

      Ah, jadi harus gimana nih Mas? Masa cuma menyesal saja.

      • “Mari kita mengejar kembali ketertinggalan kita, dengan belajar dan bekerja keras. Kelak, kita akan memasuki era tinggal landas dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.”

        Bah, kalau jawabannya itu, terlalu umum, dan kesannya klasik, sangat 1990-an.

        Jawabannya? Mungkin ada di “Resep untuk Indonesia yang Sejahtera”

        😀

        *Saya sendiri nggak tahu jawabannya. Tapi kalau mau rada keren, tinggal mengutip kalimat klasik di atas*

  2. Anda terlalu meng andai-andai semuanya ada resokonya jika pki tidak membumi hanguskan para jendral..tentu akan ber akibat fatal juga negara ini..kl menurut saya kegagalan g30s adalah kuranya komunikasi dan sentralisme demokrasi di kubu pki jakarta dan daerah tidak berjalan…dan cina tidak memberikan dukungan militer..karena dan salah ya kenapa suharto dilupakan kenapa tidak di bunuh sekalian …dia bodoh tapi licik..ya kayak sengkuni kl didalam perwayangan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s