Indonesiana

Nyata

Siang tadi saya membeli Tempo edisi 5-11 Oktober 2009, di situ ada artikel menarik tentang Njoto. Njoto, nama Jawa yang kesannya lawas, entah masih ada yang menggunakannya atau tidak. Di masa orde yang lalu, mungkin nama itu menyimpan sebuah makna yang bagi setiap orang haruslah dihindari, karena itu akhirnya nama ini tidak lagi populer.

Njoto adalah seorang penikmat hidup. Ia senang membaca sejak kecil, ke manapun selalu saja ada bacaan yang dipegangnya, entah buku, entah koran. Kebiasaan gila membaca yang merupakan turunan dari ayahnya. Sejak kecil kebiasaan ini ditanamkan, sehingga menjadikan ia sebagai sosok yang berwawasan luas. Kegilaannya akan membaca mengantarkannya pada dunia tulis-menulis, yang kelak menjadikannya seorang redaktur. Njoto juga seseorang yang menyenangi musik, dan piawai memainkan instrumen. Sebut biola, piano, bahkan saksofon. Ia kerap bermain musik dengan Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana. Beberapa lagu telah ia karang.

Penampilan Njoto selalu rapi. Kacamata tebal selalu menghiasi wajahnya. Di mata anak-anaknya, ia merupakan sosok periang, seorang ayah yang senantiasa menyempatkan waktu berkualitas untuk keluarganya. Sampai di sini, sosok Njoto terlihat nyata, dan sempurna. Tapi, benarkah dia monster, seperti kata orang?njoto

Njoto, hingga 1965, adalah Wakil Ketua II Comite Central Partai Komunis Indonesia. Bersama D.N. Aidit dan M.H. Lukman, mereka adalah Tiga Serangkai penggerak PKI pasca insiden Madiun 1948. Kegemarannya membaca mengantarkannya pada Marx, yang kemudian menginspirasinya sebagai jalan perjuangannya.

Tulisan ini tidak hendak membahas peran Njoto dalam sejarah. Tulisan ini hanya hendak menyampaikan, bahwa setiap manusia unik, memiliki sisi-sisi yang belum tentu kita ketahui, yang menjadikan setiap manusia berharga. PKI sebagai sebuah wadah tidak serta-merta membolehkan kita beranggapan mereka semua sama, karena selalu ada sosok yang berbeda di setiap wadah. Njoto sendiri menjadi antitesis sosok tipikal seorang komunis, karena gayanya yang borjuis, dan ideologinya yang lebih dekat dengan Soekarnoisme.

Menjelang September 1965, Njoto dicopot dari kedudukannya sebagai Wakil Ketua II CC PKI. Dia juga tidak tahu-menahu perihal plot G30S. Toh, dia tetap kena getahnya.

Njoto akhirnya menjadi korban dalam sejarah. Tidak saja karena ia kehilangan nyawanya akibat aksi pemberantasan anggota PKI dan simpatisannya oleh ABRI, tapi karena sosoknya terlanjur dicemari. Dia dibunuh dua kali, tidak, tiga kali. Nyawanya direnggut paksa, dituduh terlibat aksi makar G30S, dan dilupakan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s