Review, Selingan

Seli yang Seksi

Sudah seminggu ini saya punya teman kalau jalan-jalan. Dia asik, karena itu enak untuk diajak ke mana saja. Dia juga seksi, kalau jalan dengan dia banyak orang yang melirik (ke dia tentunya, apa sih yang bisa dilihat dari saya? *invisible mode: on). Dia juga tidak menolak saya dekap erat, malah saya tunggangi, saya genjot-genjot sampai puas, dan akhirnya kelelahan. Dia tetap setia. Siapakah dia?

Salah satu genre dalam dunia sepeda adalah SELI, alias sepeda lipat. Bentuknya seperti sepeda (ya iyalah), tapi proporsinya berbeda dari yang biasa kita lihat. Yang saya pakai, Polygon Urbano, memiliki roda 20”. Saya pilih ini agar ringkas ketika dilipat, dan bisa dibawa ke dalam kabin kereta kalau mau jalan-jalan. Sampai di kota tujuan, seli dibuka, dan digowes. Simpel to? Jarang jangkau saya jadi bertambah.

Begini nih penampakannya:

DSC_8498DSC_8499

Continue reading

Standard
Indonesiana

Sebuah Sejarah Alternatif

B . O . D . O . H .

Kita bodoh bila tidak mau belajar dari sejarah. Dari sejarah, kita bisa mengetahui tipikal karsa manusia di bumi Indonesia ini, dan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi. Pola kejadian yang sama senantiasa berulang. Pun begitu dengan 1965.

PKIAwan gelap menyelimuti negeri ini pasca bulan September 1965. Kejadian pemicunya memang kecil, tapi dampaknya luar biasa. Dampaknya terasa hingga puluhan tahun sesudahnya, membuat sekelompok orang meraih untung, dan kelompok lainnya menanggung derita. Bagi saya, titik balik dalam sejarah yang satu itu menyakitkan. Apakah karena saya berada dalam kelompok yang kalah? Tidak. Karena titik balik itu menjadikan sekelompok orang yang tidak seharusnya berkuasa menjadi mahakuasa, menghancurleburkan masa depan bangsa lebih dari yang kita perkirakan.

Kita lihat…

Indonesia tahun 1960-an, negeri ini sedang membangun. Di Jakarta, Monumen Nasional mulai dibangun. Angkatan bersenjata kita menunjukkan taringnya. Angkatan Udara republik ini malah menjadi yang terkuat di belahan dunia Selatan, melampaui Australia. PSSI disegani di Asia. Di bidang diplomasi, lobi Indonesia kuat, dan disegani banyak negara. Beberapa negara malah menjadikan Indonesia contoh. Konferensi Asia Afrika, New Emerging Forces, menunjukkan Indonesia percaya diri menantang kekuatan-kekuatan besar dunia. Meski kepemimpinan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno nyaris absolut dan kerap membahayakan nasib bangsa ini dengan sikap politiknya, setidaknya bangsa ini memiliki harga diri. Namun yang lebih penting, bangsa kita sedang dibentuk, nation building sedang berlangsung. Bung Karno memompa kepercayaan diri bangsa ini begitu besar. Dengan kepercayaan diri yang begitu kuat, bangsa ini menunjukkan harapan yang cerah di masa depan.

Continue reading

Standard
Indonesiana

Nyata

Siang tadi saya membeli Tempo edisi 5-11 Oktober 2009, di situ ada artikel menarik tentang Njoto. Njoto, nama Jawa yang kesannya lawas, entah masih ada yang menggunakannya atau tidak. Di masa orde yang lalu, mungkin nama itu menyimpan sebuah makna yang bagi setiap orang haruslah dihindari, karena itu akhirnya nama ini tidak lagi populer.

Njoto adalah seorang penikmat hidup. Ia senang membaca sejak kecil, ke manapun selalu saja ada bacaan yang dipegangnya, entah buku, entah koran. Kebiasaan gila membaca yang merupakan turunan dari ayahnya. Sejak kecil kebiasaan ini ditanamkan, sehingga menjadikan ia sebagai sosok yang berwawasan luas. Kegilaannya akan membaca mengantarkannya pada dunia tulis-menulis, yang kelak menjadikannya seorang redaktur. Njoto juga seseorang yang menyenangi musik, dan piawai memainkan instrumen. Sebut biola, piano, bahkan saksofon. Ia kerap bermain musik dengan Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana. Beberapa lagu telah ia karang.

Penampilan Njoto selalu rapi. Kacamata tebal selalu menghiasi wajahnya. Di mata anak-anaknya, ia merupakan sosok periang, seorang ayah yang senantiasa menyempatkan waktu berkualitas untuk keluarganya. Sampai di sini, sosok Njoto terlihat nyata, dan sempurna. Tapi, benarkah dia monster, seperti kata orang? Continue reading

Standard