Insight

Mensyukuri Kekalahan

Setelah mensyukuri kematian, sekarang giliran mensyukuri kekalahan. Apa pasal? Begini…
Bulan Ramadhan yang penuh berkah, sepatutnya diisi dengan berbagai ibadah. Puasa, kita menahan hawa nafsu untuk melatih jiwa kita yang lemah agar semakin kuat menjalani hidup, sekaligus mencoba mengakrabkan diri dengan Allah. Ibadah khas lainnya, shalat tarawih, dilakoni tiap malam agar rumah ibadah selalu ramai, mencoba mengingatkan orang-orang bahwa, “Hei, ternyata seru juga lho nongkrong malem-malem di mesjid, dapet pahala lagi!”. Begitulah. Waktu SD dulu kita diberi tugas oleh guru agama (islam tentunya) mencatat ceramah tarawih. Maksudnya jelas, supaya anak-anak bandel ini belajar menyukai tarawih. Dari kecil dulu, buku itu tidak pernah penuh kuisi 😀 Dari 30 malam Ramadhan, jika terisi setengahnya saja bisa-bisa aku mengadakan syukuran. Nah, selepas SD, ketika mencatat ceramah tarawih tidak lagi diwajibkan, mulai deh aku malas-malasan. Zaman SMP dulu biasalah, teman-temanku berangkat ke mesjid, tidak ikut tarawih, tapi malah nongkrong, ngobrol, merokok. Jadi, waktu itu aku menghadapi dua pilihan yang sama menariknya 😀
Ramadhan tahun ini ibadahku empot-empotan. Jangankan tarawih dan menamatkan Quran, shalat wajib saja masih bolong (Astaga, saat Ramadhan? Ya!). Yang bisa “dibanggakan” adalah puasaku yang full. Entah diterima atau tidak oleh Yang Menyuruh Berpuasa, menurutku sendiri puasaku belum sempurna. Aku masih saja emosian, berpikiran kotor, dan hal-hal lain yang mestinya aku hindari ketika berpuasa. Huh.

Biasa lah, mendekati hari H, iklan-iklan mengusung kalimat “Merayakan Kemenangan”, “Mensyukuri Kemenangan” (halah, kontras dengan judul), “dsb”. Intinya, berpuasa 30 hari dianggap sebagai “zona perang”, dan di ujung 30 hari itu “kita menang”. Belum pernah diselidiki atau direnungkan, kita betul-betul menang atau sekedar gencatan senjata? Atau kita dibohongi bahwa kita menang, tapi sebenarnya kalah?
Jadi di hari “H” besok, aku hendak mengakui kekalahanku pada Yang Memerintahkan Berpuasa. Aku belum cukup baik untuk memenangkan perang ini. Mungkin tahun depan. insyaAllah.

Standard