Indonesiana

100% Indonesian

Tulisan tolol ini berawal dari kegeraman atas “properti” nasional kita yang dicolong maling. Ada baiknya kita mulai membuat daftar apa saja yang menjadi milik bangsa kita. Saya buat dalam dua bahasa, agar orang asing yang tidak paham bahasa inggris juga mengerti (entah kalau bahasa mel**u negeri tetangga). Tidak hanya berhenti di situ, mari kita peduli dan rawat budaya kita. Mari kita ajar anak-anak kita (yang belum punya ya adiknya atau siapalah gitu) membatik, menari pendet, menonton pentas reog (di Indonesia tentunya), belajar gamelan, menyanyikan lagu ‘Rasa Sayange’ (sembari menanamkan di hati bahwa itu adalah lagu dolanan kita yang populer), dan memahami budaya kita. Tidak perlu minder mempelajari budaya sendiri. Banyak aksi yang bisa kita mulai dari hal-hal kecil seperti di atas.

Kembali ke inti masalah, berikut ini adalah MILIK BANGSA INDONESIA:

We, Indonesian, would like to remind the world, that things below are our national treasure. So, don’t believe too quick if another nation such as the (fu**ing) Malaysia give a slight show about so-called their “culture”. You should be critical, whether it is originated in their land, or they just taken it from other nations. Therefore, we’ll try to keep our culture and its products so the future generations of the world can still see the amazing cultures live in Indonesia.

You can be sure that things below are 100% BELONG TO INDONESIAN:

Batik adalah milik Indonesia / Batik is originated and belongs to Indonesia

Gamelan adalah milik Indonesia / Gamelan is originated and belongs to Indonesia

Reog adalah milik Indonesia / Reog is originated and belongs to Indonesia

Bali adalah milik Indonesia / Bali belongs to Indonesia exclusively,  from the past until the end of the world

Tari Pendet adalah milik Indonesia / Pendet Dance is originated and belongs to Indonesia

Lagu ‘Rasa Sayange’ adalah milik Indonesia / ‘Rasa Sayange’ song is originated and belongs to Indonesia

Rendang adalah milik Indonesia / Rendang (a kind of spicy steak) is originated and belongs to Indonesia

Gudeg adalah milik Indonesia / Gudeg is originated and belongs to Indonesia

Rumah Joglo adalah milik Indonesia / Joglo is originated and belongs to Indonesia

Keris adalah milik Indonesia / Keris is originated and belongs to Indonesia

Tempe adalah milik Indonesia / Tempe is originated and belongs to Indonesia

Nasi Goreng Magelangan adalah milik Indonesia / Magelangan Fried Rice is originated and belongs to Indonesia

Rencong adalah milik Indonesia / Rencong is originated and belongs to Indonesia

Angklung adalah milik Indonesia / Angklung (bamboo musical instrument) is originated and belongs to Indonesia

Silat adalah milik Indonesia / Silat is originated and belongs to Indonesia

Apalagi ya produk budaya milik kita? Yang sudah diklaim orang ataupun yang masih belum tersentuh. Sampai sini males ngetik. Habis, banyak banget nih. Tolong bantu tambahin ya 😀

Standard
Indonesiana

Selamat Datang di Kampus (yang jas almamaternya berwarna) Biru!

Inilah MIT-nya Endonesa, mBandung Institute of Technology. Kampus luar biasa ini terletak di Kota Bandung, yang mengingatkan kita pada gadis-gadisnya (pukul rata saja, saya tidak mensurvei kegadisan mereka) yang modis-modis dan menyenangkan untuk dilihat. Kota ini juga terkenal akan roti pisang “Kartika”, dan tempat asal Ar**l, vokalis sebuah band ternama yang digilai gadis-gadis (sekali lagi, saya pukul rata semuanya) negeri jiran.
Kampus ini tidak seluas UGM. Perpustakaan pusatnya saja juga cuma satu, tidak seperti UGM yang punya beberapa, ada UPT 1, UPT 2, bahkan perpustakaan pascasarjananya juga ada. Melihat kondisi perpustakaannya, saya kerap merasa kasihan, terutama pada para mahasiswanya yang setiap hari nongkrong di sana, berjibun mengantri meminjam buku, seolah-olah buku cuma ada di situ. Bandingkan dengan UPT 2 UGM, suasanya yang sepi, dengan deretan rak-rak buku yang nyaris tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia, lebih menjanjikan suasana membaca yang kondusif, bahkan menyenangkan untuk tidur. Saya tidak bisa membayangkan tertidur di perpustakaan pusat ITB. Masuk saja sulit, harus berebut untuk masuk. Kalau ketiduran di situ pasti malu 😀 Belum lagi adanya semacam tur atau orientasi bagi mahasiswa baru untuk mengenal perpustakaannya. Ada tur yang berjadwal, sebelum mendaftar anggota perpustakaan. Bayangkan!
Kita teruskan keliling kampus. Gedung paling tua ada di depan, konon dipakai oleh Bung Karno menyimak pelajaran dari dosen-dosen tamu kala itu (yang bukan inlander dihitung sebagai tamu). Bentuk atapnya khas sekali, kita tidak akan keliru mengira itu ada di tempat lain. Melongok dalamnya, kita akan melihat bahwa ternyata konstruksinya terbuat dari kayu. Itulah mantapnya insinyur Belanda. Bentuk atap yang khas tersebut akhirnya diterapkan juga untuk gedung-gedung kuliah lain yang lebih baru. Gedung yang dibangun belakangan lebih terlihat segar (modern, atau postmodern? Bingung mendefinisikannya) seperti gedung Teknik Kimia dan SBM.
Satu yang kusuka, kampus ini cukup rindang. Takut kepanasan? Banyak teduhan di sini. Desain kampus memungkinkan orang-orang di dalamnya berjalan kaki ke manapun dengan nyaman, tanpa harus repot-repot berkendaraan. Masih nyambung dengan konsep kampus untuk pejalan kaki, semua fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa bisa ditemukan di sini, mulai dari kantin, fotokopian, pusat komputer, lapangan basket, lapangan voli, aula, lab, bengkel, tak lupa tempat parkir. Hotspot berserak di seluruh tempat, beruntunglah yang memiliki komputer jinjing. Suasananya didukung pula dengan aktifnya para mahasiswa berkumpul, berdiskusi, dan lain-lain. Jadi kangen masa kuliah dulu…
Penampilan para mahasiswanya? Stereotip mahasiswa teknik. Banyak yang gondrong (bila rambutnya keriting, biasanya ditambah bando), rata-rata berkacamata, bercelana jins, dan pasti pintar semua. Aku juga mengamati bahwa banyak juga mahasiswa yang jalan sambil bicara sendiri, entah menghapal rumus, mencoba bernyanyi, sedang mengkhayalkan sesuatu, atau mungkin terlampau stres dengan tugas akhirnya.
Sampai saat ini, citra kompleks kampus ini positif di mataku. Selain lengkap, bisa diakses mudah, dan penuh hiasan (tugu, monumen, dan patung sumbangan dari berbagai perusahaan ataupun alumninya), suasananya benar-benar mendukung untuk fokus. Memang, segalanya tampak lebih rumit di sini (bayangkan Ospek setahun, tur perpustakaan, daftar ulang yang ribet), tapi aku berpikir bahwa itu menandakan orang-orang di sini senang berproses, asik dengan kerumitan yang menyenangkan (bagi mereka). Entahlah, jadi semacam seni mungkin?
Tapi, ada satu yang kurindukan, yang tidak ada di situ. Suasana. Lima tahun, dan aku terlalu terbiasa dengan suasana Jogja yang santai, kreatif, sedikit ndeso, tempat di mana kehangatan bisa dengan mudah kujumpai. Atmosfer Bandung memang berbeda dengan Jogja, dan aku tidak ingin mencampuradukkan keduanya. Bandung, adalah kota yang menyenangkan untuk ditinggali, tapi aku tetap saja masih merindukan Jogja…

*Setelah kubaca ulang, ternyata judul dan akhir tulisan tidak nyambung. Hehehe… Biarlah. Cuek saja.

Standard