Indonesiana, Jalan-jalan

Duri…

22 April 2009.
Akhirnya, setelah sekian lama kembali lagi ke Duri. Duri, di mana itu? Duri adalah sebuah “kota” (kenapa diberi tanda kutip, karena aku juga tidak yakin ini pantas disebut kota, hehehe) di mana aku dibesarkan. Secara KTP memang aku orang Jogja, tapi di tempat inilah pola pikir awalku dibentuk.
Duri awalnya hanya sebuah kamp pengeboran minyak. Di kamp ini, segala kebutuhan hidup pegawai dan keluarganya diusahakan untuk dipenuhi. Wajar sih, kalau tidak begitu, mana ada yang mau tinggal di tengah hutan seperti ini. FYI, jalan antar “kota” yang menghubungkan “kota” ini ke “kota” lain awalnya adalah jalan yang biasa dilalui gajah liar. Lama-kelamaan pola jalan yang menembus hutan ini terbentuk, tinggallah manusia-manusia yang mencoba mencari nafkah di sini mengaspalnya. Tahun 1991 ketika keluargaku boyongan pindah ke sini, ibuku sempat stress. “Di tengah hutan?!” Hahaha…

copy-dsc_0743
Pemandangan yang khas di Duri, apalagi kalau bukan pompa angguk. Benda ini takkan bisa dilepaskan dari benak anak-anak Duri. Waktu masih kecil dulu, bapak sering mengajakku ke ladang minyak. Pompa-pompa yang mirip kuda ini (mirip gagak juga bisa, terutama untuk pompa yang berwarna hitam dengan ujung kuning) digunakan untuk menyedot minyak yang reservoirnya (kantong minyak) tidak terlalu dalam. Untuk reservoir yang dalam, alatnya lain lagi, tapi pompa minyak yang menurutku paling estetis ya pompa angguk ini. Jadi ingat zaman dulu, aku sering minta bapak menggambarkan kuda baja ini. Waktu TK dulu, pompa angguk ini yang sering kugambar, bukan lukisan standar anak TK yang berupa dua gunung itu.
Dalam perjalanan Dumai ke Duri, kebetulan bis yang kutumpangi lewat ladang minyak ini. Kujepret beberapa gambar pompa angguk. Sekedar nostalgia. Pompa-pompa tersedia dalam beberapa model dan ukuran. Bapak dulu sering guyon, “Ini ada pompa bapak sama anak”.

cepret-00351
Aku dua minggu di sini, rehat sejenak dari kehidupan Jogja. Jogja dan Duri sama-sama penting bagiku. Tapi, di Jogja kayaknya agak sulit bisa jogging tanpa ditemani polusi. Hehehe…

Advertisements
Standard
Insight, Jalan-jalan

Travel…

21 April 2009
Hari Kartini ya? Selamat untuk para wanita Indonesia! Beruntung bangsa kita punya Hari Kartini, setiap tahun ada hari di mana kita diingatkan untuk mengevaluasi diri, sudah sejauh mana kita mengenal pakaian-pakaian adat kita. Halah. Mentang-mentang tiap 21 April untuk anak-anak kecil diadakan lomba busana adat daerah… Tapi bukan itu intinya. Saia yakin Anda semua sudah paham 😀
Sore ini berangkat ke Jakarta pakai travel, berusaha mengejar pesawat ke Riau yang berangkat jam 7 pagi. Artinya, jam 6 adalah batas waktu check in. Keburu gak ya? Di Jogja cuma ada dua biro travel yang bersedia berangkat sore (bukan malam) supaya orang-orang macam diriku bisa sampai tujuan tepat waktu, yaitu ******** dan ** *****.
Sebenarnya hampir saja batal berangkat, karena sampai jam 1 siang hari ini baru dua orang penumpang. Untuk berangkat, minimal ada tiga penumpang. Syukurlah, jam 1.30 dipastikan aku berangkat…
Penumpang satu, seorang ibu yang duduk di sebelahku, ingin mengunjungi saudaranya yang sakit jantung. Kebetulan ibu ini “rame” senang sekali bercerita, jadi aku tidak merasa kesepian. Jadi, iparnya sudah tiga bulanan dirawat, gara-gara penyakit jantung yang terkomplikasi menjadi trio: jantung-hati-ginjal. Konon di masa mudanya, si pasien memiliki temperamen yang meledak-ledak, suka merokok. Bhhh… Jangan ditiru lah.
Penumpang kedua, seorang pemuda yang baru lulus SMK. “Ke Cijantung, mau cari kerja” katanya. “Jadi tentara” Wow, bagus untukmu.
Supirnya, seperti supir travel pada umumnya, marmos. Diajak ngobrol, menggumam. Ditanyai, dijawab dengan kasar. Saia yakin tidak semua seperti itu, tapi kebetulan saja tiap kali naik travel dapat supir yang demikian 😀
Sekitar jam 8-an, di daerah Karanganyar, Kebumen, aku melihat kerumunan orang di tepi jalan. Astaga, ada kecelakaan. Dua pengendara motor (sepertinya) tewas di tempat. Bukan pemandangan yang menyenangkan. Apa mereka tahu bahwa malam itu akan menjadi saat-saat terakhir mereka? Mungkin saja mereka Cuma dua pemuda yang pergi ke warung, tanpa menyadari apa pun, dan kini jiwa mereka telah bertualang ke alam lain… Aku berusaha tetap tenang.
22 April 2009
Dini hari, macet di Subang, Jawa Barat. Waduh, kukira bakal telat sampai bandara. Aku berdoa.
Jam 5 pagi baru masuk tol Cikampek. Jam 5.30 masih di tol. Astaga. Aku sudah mulai panik, mana pada jam yang sama si supir membawa mobil menepi. Merokok. Tidaaak!!!
Jam 5.45, sudah mulai masuk jalan ke Halim. Syukurlah.
Jam 6. Check in. pas banget.
Jam 7. Terbang 😀

Standard
Selingan

Mulai Lagi…

Empat bulan blog ini diabaikan. Cukuplah pengabaian itu. Hehehe…
Empat bulan terakhir ini terjadi beberapa peristiwa penting:
1)    Pendadaranku
2)    Jadian
3)    Wisudaku
4)    “Dikembalikan” oleh universitas ke orang tua, alias jadi pengangguran
Saatnya menyegarkan pikiran lagi, mengonsolidasikan diri lagi.

Selamat pagi dunia!

Standard