Indonesiana

KKN #2: Children of Heaven

Jangan bayangkan anak-anak Sawangan seperti anak-anak kota di perumahan. Dibilang rapi, tidak juga. Bersih? Hohoho, lihat “tato-tato” alami di sekujur tubuh mereka. Pakaian pun seadanya. Itu kesan pertama yang kutangkap. Sadis memang aku ini, tapi toh kelamaan aku merubah prasangka itu setelah mulai mengenal anak-anak itu lebih dekat.

Selayaknya anak-anak kecil pada umumnya, mereka tertarik pada hal-hal baru. Mereka lah yang pertama-tama main ke pondokan kami (para remaja dan warga yang lebih tua umumnya sungkan dan malu-malu). Mereka tertarik dengan kami, barang-barang kami yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Memangnya kami ini alien?!

Arnold, cowok Batak tulen di sub unit kami kebetulan (yang disengaja) membawa satu set alat gambar lengkap. Mulailah program mengajak anak-anak tersebut menggambar. Dari situ titik awal mereka mulai akrab dengan kami. Apa saja yang mereka gambar? Jangan bayangkan dua buah gunung, sawah, lalu ada mataharinya, ada jalan di tengah (standar anak TK banget), bukan! Mereka menggambar apa yang mereka lihat. Ada juga yang menggambar gunung, tapi tidak senaif gambar anak TK di kota, mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Hari berikutnya, kami mengajak anak-anak mandi sore di kali. Itu dia, pertama kali melihat tubuh-tubuh mereka, hieeekk… apa di sini tidak ada yang mengenal sabun? Melalui ajang mandi bersama inilah kami mensosialisasikan benda keramat bernama “sabun”. Respon mereka cukup baik. Terbukti di kemudian hari, di penghunjung masa KKN kami, anak-anak dekil yang kami kenal menjadi lebih rapi dan bersih. Ah, betapa terharunya…

Anak-anak yang kami kenal dan sering main ke pondokan rata-rata masih SD. Ada SD di Sawangan? Ya, meskipun terpencil (konon paling terpencil se-Jawa Tengah, dan aku adalah Kormasit paling terpencil se-Jawa di KKN UGM kali ini, huahahaha…). Total siswa-siswinya cuma 30-an. Jadi ingat Laskar Pelangi… Guru-gurunya berasal dari desa lain. Pak Guru biasanya datang Senin Pagi dan kembali ke desanya Sabtu siang. Hal yang khas dari SD di sini adalah waktu liburnya yang terlalu banyak. Seperti yang kita ketahui, masyarakat di pedesaan masih memegang teguh adat dan ritual-ritual. Bila ada perayaan, selametan, syukuran, atau acara apa pun itu, sekolah bisa diliburkan. Bagaimana dengan jam sekolahnya? Jam 8 pagi masuk, pulang jam 12 siang. Istirahat jam 9 sampai jam 10. Hehehe… Asik kan?

Pimpinan geng anak-anak di sini adalah Casmidi, kelas 4. Entah bagaimana, dia dipandang memiliki “kharisma” oleh teman-temannya. Mereka malah rela memanggilnya “bos”. Buset. Ada juga hal seperti itu di sini. Perawakannya biasa saja, tapi dia anak yang paling aktif di antara teman-temannya.

Kasman, anak ketua RT sekaligus induk semang pondokan kami, sebenarnya lebih pantas jadi bos. Selain karena lebih tua (kelas 6 SD), trah-nya juga bagus. Bapaknya ketua RT, mbahnya jadi kepala dusun. Kasman, sang putra mahkota. Sayangnya, kelakuannya terlalu kekanakan dan cenderung brutal, akibatnya dia kalah sangar dari Casmidi.

Ada lagi anak yang tidak bakal aku lupa, Subi, adik kandung Kasman. Subi yang masih kelas 2 SD, tidak lancar berbahasa Indonesia, berwajah lucu, nakal (melebihi Kasman), dan ingusan. Bicara tentang ingus, citra ingusan terlanjur melekat di benak kami setiap membicarakan Subi. Sejak kami datang ke Dusun Sawangan sampai penarikan, ingusnya tidak pernah hilang. Lucu kalau diamati. Ingusnya turun perlahan, mendekati bibir, ia hirup. Sempurna sekali untuk menghilangkan nafsu makan. Hahaha…

Masih tentang ingus, pernah suatu sore aku dan Oong mengajak anak-anak main di lapangan SD. Tiba-tiba timbul perkelahian, biangnya si Subi. Dengan garang dan perkasa ia mencoba menghajar lawannya. Sampai saat itu citranya oke sekali, perkasa! Tiba-tiba di momen yang penuh aksi itu keluarlah benda kental dari hidungnya. Buewhh… Rusak sudah citra garangnya! Aku dan Oong terbahak-bahak melihat aksi perkasa yang konyol itu.

Satu lagi, si pendiam Subari. Berlainan dengan Subi, bahasa Indonesianya baik sekali, sangat taat EYD. Mengobrol dengannya dalam bahasa Indonesia serasa membaca buku undang-undang. Benar-benar EYD. “Mas, kamu sedang melakukan apa?” “Apakah kamu sudah lelah, Mas?” “Mas Tiyok, mari kita menanam pohon di belakang kelas. Biar saya ambilkan bibitnya, lalu kita menanam bersama” Aku seperti tengah terlibat dalam drama SD… Cuma aku yang tahan berbicara seperti itu. Teman-teman yang lain sudah terbahak-bahak tidak karuan mendengarnya.

Children of heaven, anak-anak Sawangan ini. Terlepas dari segala kekonyolan mereka, semua itu refleksi dari kepolosan dan kebersihan hati mereka. Senang aku memandang mereka, rasanya senang sekali melihat tingkah mereka yang tanpa kemunafikan. Sungguh kami banyak belajar dari mereka.

Advertisements
Standard

3 thoughts on “KKN #2: Children of Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s