Indonesiana

KKN #4: Hercules Lokal

Bicara kekuatan, kami yang anak kota jelas kalah dibanding penduduk desa yang maha perkasa itu…
Dilihat dari pola hidup dan pekerjaan sehari-hari yang jauh berbeda semakin menegaskan, di ranah kekuatan fisik, apalah kami ini…

Pertamah: kaki-kaki mereka terlatih berjalan jauh di medan jalan yang naudzubillah. Jalan menanjak atau menurun sekian kilometer apalah artinya. Itu pun dibarengi membawa beban yang juga berat. Rasanya status sebagai seorang pendaki gunung amatiran tidaklah bisa dipamerkan di sini 😀

Keduah: kebiasaan membawa barang-barang berat! Mulai dari rumput gajah buat pakan ternak yang beratnya hampir seberat bleduk (anak gajah-red) sampai kayu bakar yang beratnya sekuintal agak melebih-lebihkan sih. Prestasi terbaru mereka, mengangkut baja profil untuk jembatan yang berat tiap batangnya 220 Kg, diangkut manual! Manual di sini berarti dipikul rame-rame, menuju dusun mereka yang jarak tempuhnya bagi orang awam seperti kami sekitar satu jam jalan kaki. Bayangkan itu!

Ketigah: rasanya dua saja sudah cukup…

Standard
Indonesiana

KKN #3: Konon itu Demit

Mbah Ritno, kepala Dusun Sawangan, konon berumur 98 tahun (tahun ini, 2008). Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, katanya pernah satu gugus tugas dengan Pak Harto. Beliau menjabat kepala dusun sejak 1966. Tidak hanya dihormati, tetapi juga disegani. Konon, beliau memiliki ilmu spiritual yang tinggi, demi melindungi dusunnya. Mitos bahwa pemimpin memiliki “ilmu” sakti sudah lumrah di nusantara. Mbah Ritno adalah salah satu contohnya. Paling seru kalau diajak cerita tentang asal-usul Dusun Sawangan, lalu lelembut-lelembut di hutan sekitar dusun, dan cerita-cerita mistis lainnya. Kebetulan, daerah pedesaan terpencil seperti Sawangan ini sangat subur dengan mitos dan cerita semacam itu. Kita mulai…

Konon, Dusun Sawangan didirikan oleh Mbah Sanggar Waringin, sekian ratus tahun yang lalu. Simbah ini masih menjaga dusun, berdomisili di sebuah pohon duren besar di jalan masuk dusun. Brrr… Kesimpulannya belum jelas, Mbah Waringin ini berstatus manusia atau bukan.

Dua bulan kami di sana (untungnya) tidak pernah mengalami hal-hal aneh. Paling satu atau dua kali ketakutan dalam gelap dan kesendirian. Oong, pernah suatu ketika harus pulang sendirian mengendarai motor dari Karanggondang, dusun terdekat, jam 7 malam. Sendirian, gelap, sepi, cuma diramaikan deru motor. Jalan Karanggondang-Sawangan melintasi hutan, banyak pohon-pohon besar. Tahu sendiri kan mitos tentang keangkeran pohon besar? Apalagi di tengah hutan. Malam pula. Sendirian. Kurang apa untuk cerita horor? Sepanjang perjalanan 20 menit itu Oong terus bersalawat, sembari berdoa ban motor tidak bocor (bayangkan kalau bocor…). Dia hanya berani memelototi jalan yang disinari lampu motor, takut melihat hal yang aneh-aneh kalau berani tingak-tinguk. Untunglah dia selamat sampai di Sawangan. Bukan ucapan selamat yang ia dapatkan setibanya di sana. Pak Tono, salah seorang warga, “Mas, kok berani banget jalan lewat situ malam-malam?” “Pohon besar di tikungan sana ditunggui kuntilanak lho, Mas!” Oong sontak pucat pasi!

Esoknya ia mencoba konfirmasi ke Mbah Ritno. “Benar Mas, pohon besar di pengkolan pertengahan jalan Karanggondang-Sawangan itu memang ada penunggunya, kuntilanak” “Saya pernah ketemu sekali” “Kalau jauh, suaranya hihihihi…” (tertawa pelan) Cerita Mbah Ritno dengan serius. “Kalau dekat gimana Mbah?” Timpal Oong. “HIHIHIHI” Simbah menirukan tawa kuntilanak dengan suara lebih keras (Simbah masih cerita dengan gaya serius, tapi kami terbahak-bahak karena HIHIHIHI yang terakhir lucu, bukan horor).

Untunglah itu hanya sekedar cerita bagi kami.

Satu malam, pernah tinggal aku dan Oong berdua di pondokan. Sebelum tidur, kami saling tukar cerita-cerita mistis seputar Dusun Sawangan. Saking serunya, percakapan tidak mutu itu berlangsung berjam-jam, hingga jam 11 malam lebih kami belum tidur juga. Saat mulai mengantuk, mulai tertidur, terdengar lolongan anjing yang tidak wajar. “Aauuuuu…!” Terdengar lolongan yang merintih, tapi agak berbau mistis sehingga bulu romaku berdiri sedikit. Setahuku juga anjing-anjing milik warga jam segitu sudah pada tidur. “Ong, coba dicek di luar, itu anjing betulan apa bukan” Usulku bercanda, dengan niat mengganggu tidurnya. “Emoh ah, kowe wae, yen asu tenanan aku dikabari!” Sambil terkekeh-kekeh. Itu akhir percakapan kami sebelum tidur yang amat sangat tidak bermutu.

Ada lagi mitos lain, Dewi Srenggi. Di Petungkriyono memang banyak babi hutan (di sini disebut celeng). Karena dianggap hama, penduduk setempat sering mengadakan perburuan. Nah, Dewi Srenggi ini konon (lagi-lagi konon) adalah dewi pelindung celeng. Aku tidak tahu persis bagaimana kesaktiannya dan apa yang bisa dewi itu perbuat, tapi konon (tuh kan, konon lagi) Dewi Srenggi sangat cantik. Bila kita berjalan sendirian di tengah hutan, lalu berkabut, bisa-bisa kita bertemu Srenggi (entah kenapa suasananya harus horor begitu, namanya juga “konon”). Ia akan menyapa dengan halus. Cantik sih, tapi kakinya itu, konon berkaki celeng!

Cantik sih cantik, tapi masa mau punya anak keturunan celeng?

Sori, untuk postingan ini memang tidak ada fotonya…

Standard
Indonesiana

KKN #2: Children of Heaven

Jangan bayangkan anak-anak Sawangan seperti anak-anak kota di perumahan. Dibilang rapi, tidak juga. Bersih? Hohoho, lihat “tato-tato” alami di sekujur tubuh mereka. Pakaian pun seadanya. Itu kesan pertama yang kutangkap. Sadis memang aku ini, tapi toh kelamaan aku merubah prasangka itu setelah mulai mengenal anak-anak itu lebih dekat.

Selayaknya anak-anak kecil pada umumnya, mereka tertarik pada hal-hal baru. Mereka lah yang pertama-tama main ke pondokan kami (para remaja dan warga yang lebih tua umumnya sungkan dan malu-malu). Mereka tertarik dengan kami, barang-barang kami yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Memangnya kami ini alien?!

Arnold, cowok Batak tulen di sub unit kami kebetulan (yang disengaja) membawa satu set alat gambar lengkap. Mulailah program mengajak anak-anak tersebut menggambar. Dari situ titik awal mereka mulai akrab dengan kami. Apa saja yang mereka gambar? Jangan bayangkan dua buah gunung, sawah, lalu ada mataharinya, ada jalan di tengah (standar anak TK banget), bukan! Mereka menggambar apa yang mereka lihat. Ada juga yang menggambar gunung, tapi tidak senaif gambar anak TK di kota, mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Hari berikutnya, kami mengajak anak-anak mandi sore di kali. Itu dia, pertama kali melihat tubuh-tubuh mereka, hieeekk… apa di sini tidak ada yang mengenal sabun? Melalui ajang mandi bersama inilah kami mensosialisasikan benda keramat bernama “sabun”. Respon mereka cukup baik. Terbukti di kemudian hari, di penghunjung masa KKN kami, anak-anak dekil yang kami kenal menjadi lebih rapi dan bersih. Ah, betapa terharunya…

Anak-anak yang kami kenal dan sering main ke pondokan rata-rata masih SD. Ada SD di Sawangan? Ya, meskipun terpencil (konon paling terpencil se-Jawa Tengah, dan aku adalah Kormasit paling terpencil se-Jawa di KKN UGM kali ini, huahahaha…). Total siswa-siswinya cuma 30-an. Jadi ingat Laskar Pelangi… Guru-gurunya berasal dari desa lain. Pak Guru biasanya datang Senin Pagi dan kembali ke desanya Sabtu siang. Hal yang khas dari SD di sini adalah waktu liburnya yang terlalu banyak. Seperti yang kita ketahui, masyarakat di pedesaan masih memegang teguh adat dan ritual-ritual. Bila ada perayaan, selametan, syukuran, atau acara apa pun itu, sekolah bisa diliburkan. Bagaimana dengan jam sekolahnya? Jam 8 pagi masuk, pulang jam 12 siang. Istirahat jam 9 sampai jam 10. Hehehe… Asik kan?

Pimpinan geng anak-anak di sini adalah Casmidi, kelas 4. Entah bagaimana, dia dipandang memiliki “kharisma” oleh teman-temannya. Mereka malah rela memanggilnya “bos”. Buset. Ada juga hal seperti itu di sini. Perawakannya biasa saja, tapi dia anak yang paling aktif di antara teman-temannya.

Kasman, anak ketua RT sekaligus induk semang pondokan kami, sebenarnya lebih pantas jadi bos. Selain karena lebih tua (kelas 6 SD), trah-nya juga bagus. Bapaknya ketua RT, mbahnya jadi kepala dusun. Kasman, sang putra mahkota. Sayangnya, kelakuannya terlalu kekanakan dan cenderung brutal, akibatnya dia kalah sangar dari Casmidi.

Ada lagi anak yang tidak bakal aku lupa, Subi, adik kandung Kasman. Subi yang masih kelas 2 SD, tidak lancar berbahasa Indonesia, berwajah lucu, nakal (melebihi Kasman), dan ingusan. Bicara tentang ingus, citra ingusan terlanjur melekat di benak kami setiap membicarakan Subi. Sejak kami datang ke Dusun Sawangan sampai penarikan, ingusnya tidak pernah hilang. Lucu kalau diamati. Ingusnya turun perlahan, mendekati bibir, ia hirup. Sempurna sekali untuk menghilangkan nafsu makan. Hahaha…

Masih tentang ingus, pernah suatu sore aku dan Oong mengajak anak-anak main di lapangan SD. Tiba-tiba timbul perkelahian, biangnya si Subi. Dengan garang dan perkasa ia mencoba menghajar lawannya. Sampai saat itu citranya oke sekali, perkasa! Tiba-tiba di momen yang penuh aksi itu keluarlah benda kental dari hidungnya. Buewhh… Rusak sudah citra garangnya! Aku dan Oong terbahak-bahak melihat aksi perkasa yang konyol itu.

Satu lagi, si pendiam Subari. Berlainan dengan Subi, bahasa Indonesianya baik sekali, sangat taat EYD. Mengobrol dengannya dalam bahasa Indonesia serasa membaca buku undang-undang. Benar-benar EYD. “Mas, kamu sedang melakukan apa?” “Apakah kamu sudah lelah, Mas?” “Mas Tiyok, mari kita menanam pohon di belakang kelas. Biar saya ambilkan bibitnya, lalu kita menanam bersama” Aku seperti tengah terlibat dalam drama SD… Cuma aku yang tahan berbicara seperti itu. Teman-teman yang lain sudah terbahak-bahak tidak karuan mendengarnya.

Children of heaven, anak-anak Sawangan ini. Terlepas dari segala kekonyolan mereka, semua itu refleksi dari kepolosan dan kebersihan hati mereka. Senang aku memandang mereka, rasanya senang sekali melihat tingkah mereka yang tanpa kemunafikan. Sungguh kami banyak belajar dari mereka.

Standard
Indonesiana

KKN #1: Road to Sawangan

Kami berdelapan terlelap dalam dinginnya udara pegunungan. Keadaan tempat kami akan tinggal selama dua bulan ke depan sungguh berbeda 180 derajat dari kota tempat kami biasa hidup. Tapi karena kelelahan yang amat sangat, kami tidak peduli…

Berikut cuplikan-cuplikan kisah-kisahku selama KKN…

Petungkriyono, begitulah penduduk sini menyebut nama daerahnya. Kecamatan yang kaya dengan hasil bumi, dipenuhi sawah-sawah dan hutan yang mampu menghidupi penduduknya. Sawah-sawah dan desa-desa berada di lembah di antara perbukitan, seperti mitos Shangri-La saja…

Sawangan adalah salah satu dusun yang terdapat di sana. Apa artinya hidup di desa terpencil? Jalan dan akses ke sana sulit bukan main, tidak ada jaringan PLN, sinyal seluler kadang ada kadang sirna. Perilaku penduduk yang tidak biasa kita temui, pola hidup yang sama sekali lain, apakah itu mengejutkan? Bagi kami yang antusias menjalani program ini sih, nikmati saja ^_^

Jalan ancur!

Jalan menuju Sawangan tidak bisa dikatakan mudah. Kalau memang tidak niat ke sana, atau bukan penduduk lokal kemungkinan besar patah arang. Lha wong melihat jalan yang akan dilalui saja sudah stress! Cuma ada dua mobil yang berani ke sana. Mobil dosenku dan satu warga desa tetangga yang memang nekat, kebetulan dia sopir angkutan pick up. Naik motor? Boleh-boleh saja asa punya nyali. Kami anak KKN melibas trek maut Sawangan-Karanggondang bermodal motor bebek. Di minggu-minggu awal mengendarai motor di sana bisa membuat frustasi. Tapi kelamaan kami pun terbiasa, menjadi crosser. Hehehe… Menyenangkan dan penuh tantangan memang, tapi kasihan motor-motor yang kami bawa. Shogun hitamku jatuh beberapa kali, banyak bagian yang terdisposisi, banyak pula lecet dan bagian yang bengkok. Bweehhh…

Resiko perjalanan belum dihitung. Jalannyamemang ancur, itu satu hal. Tapi, adanya jurang menganga di salah satu sisi jalan, itu hal lain. Lokasi yang cocok untuk syuting Indiana Jones. Aku sendiri nggak yakin orangtuaku akan merestuiku KKN di sini kalau mereka melihat kenyataan seperti ini 😀

Semua itu terbayar dengan pemandangan menakjubkan. Percaya nggak percaya, serasa di lokasi syuting The Lord of The Rings, dengan nuansa Jawa tentunya, dan tidak ada Orcs di sini.

Standard