Review

Rumah Danau

Judul di atas adalah terjemahan bebas dan liar dari “The Lake House”. Terjemahan yang lebih puitis mungkin “Rumah di Tepi Danau”, lebih enak dibaca. Postingan ini terinspirasi setelah aku menonton The Lake House-nya Keanu Reeves dan Sandra Bullock.

Alkisah, Alex Wyler (Reeves), seorang arsitek muda membeli sebuah rumah di pinggir danau. Di dalam kotak surat rumah itu, dia menemukan pesan dari penghuni lama, Kate Forster (Bullock). Mereka baru menyadari bahwa mereka sebenarnya terpisah waktu dua tahun! Si penghuni lama berada di masa depan.Didorong rasa ingin tahu masing-masing, mereka saling membalas surat sehingga tanpa disadari, mereka jatuh cinta.

Latar profesi arsiteknya yang membuatku tertarik saat memutuskan menyewa DVD bajakan film ini. Keluarga Wyler adalah arsitek. Ayahnya, Simon Wyler, adalah pemilik biro arsitektur keluarga mereka. Konon, Pak Wyler senior ini sering berdiskusi dengan Frank Lloyd Wright dan Le Corbuzier (siapa ya mereka?). Reputasi sang ayah sendiri tak begitu bagus di mata anak-anaknya, karena seiring kesuksesannya, kesibukan pekerjaan menjauhkannya dari keluarga, yang kemudian membuat sang ibu memutuskan meninggalkannya. Anak-anaknya tidak pernah memaafkannya. Kata-katanya yang berkesan, “For me, she has died since she left the house”. Itu kata-kata Pak Wyler senior saat pemakaman istrinya. Sadis amat ini arsitek.

Diskusi lain yang lebih menarik ada saat Wyler dan Wyler senior mengobrol tentang cahaya menjelang kematiannya. Cahaya, adalah hal yang dapat membuat sebuah karya arsitektur lebih bermakna. Arsitek yang baik tidak mengabaikan lingkungannya, justru memanfaatkan lingkungannya demi kesempurnaan karyanya. Cahaya di Bilbao berbeda dengan di Tokyo, berbeda pula antara Sleman dengan di Bantul sana 😀 Cahaya adalah kuncinya. Sebuah prinsip yang dipegang teguh Pakde Corbuzier.

Terlepas itu, apakah menjadi arsitek berarti menjadi super sibuk, workaholic, “autis”, acuh pada orang lain, dan melupakan keluarga? Apakah semua arsitek seperti itu? Dosen-dosenku tampaknya baik-baik saja. Jadi itu sepertinya hanya kasus khusus saja. Hohohoho… Semoga saja aku kelak tidak mengalami stereotip-stereotip tadi.

Kok jadi banyak menyimpang dari jalan cerita? Lha, habis menurutku kayaknya sudah banyak yang membahas jalan ceritanya, jadi aku bahas dari sisi lain saja. Sisi lain yang dekat dengan kehidupanku sehari-hari.

Kayaknya ketinggalan banget ya ulasannya, berhubung filmnya sendiri udah lama rilisnya…

Cerita roman dengan latar belakang arsitek rupanya menarik juga.

Advertisements
Standard
Insight

Bocah Malam

Jogja, 22.30 WIB di suatu malam…

Malam itu aku hendak menuju Gelanggang Mahasiswa UGM, mengendarai motorku. Di pertigaan Colombo terhenti oleh lampu merah. Kulihat ke sisi kiriku, di trotoar sudah ada dua anak kecil menunggu, kemudian berjalan ke arahku sambil memasang tatapan iba.

Dengan halus kulambaikan tangan, berarti tidak.

Mereka pun berlalu, mencari lampu merah lain.

Ada dua orang anak. Satu memakai kaos, yang satunya saat kutatap sedang mengancingkan jaketnya. Umur mereka kira-kira sebaya. Sama-sama kurus. Dua bocah lanang yang menantang udara malam.

Aku tak tahan menatap mereka lama-lama. Melihat mereka, aku langsung teringat adik laki-lakiku. Sekejap aku membayangkan wajah adikku menggantikan wajah mereka, menatap adik laki-lakiku yang menggantikan mereka, mengemis.

Aku tak tahan.

Bocah-bocah itu masih meneruskan pencariannya di malam itu. Entah apa yang mereka rasakan, entah apa yang mereka pikirkan, dan entah apa yang mereka hadapi. Aku membayangkan adikku sedang terlelap di rumah, nun jauh di Riau sana. Terlelap dalam tidurnya yang nyaman.

Bersyukurlah adikku, kau tak perlu menantang pekatnya malam…

Standard