Selingan

Wisuda!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan tertipu melihat judul di atas, yang wisuda bukan aku! Aku Cuma dapat undangan menghadiri wisuda yang kudapatkan dari rektorat. Berhubung saia adalah Ketua UKM Pramuka (Yang Terhormat, tentu saja), maka dengan senang hati aku penuhi undangan itu. Ternyata suasana wisuda cukup “sakral” dan “mistis”. Melihat para guru besar plus rektor di meja depan penuh wibawa, menimbulkan aura tersendiri, cenderung angker menurutku. Hehehe…

Apa ya?

 

Giliran para wisudawan dipanggil, sepintas aku banyak mendengar nama-nama kakak angkatanku. Yang lulus dari angkatan 2003, 2002, 2001, sampai 2000 (haah, angkatan 2000 ada yang belum lulus?!). Aku lantas membatin, “Akhirnya lulus juga!”

Kapan ya aku wisuda? Semoga saat mengharukan itu tiba, ayah dan ibuku masih ada untuk melihatku mengenakan toga, menerima ijazah hasil belajar sekian tahun. Semoga pula Tiiiiiiiiit masih bersamaku. Hehehe…

PS: Untuk warga Arsi Nol Empat, pada mau wisuda kapan nih?

PS lagee: Foto di lokasi pewisudaan tidak dapat kuunggah. Rahasia soalnya. Mau lihat? Silakan alami sendiri.

Standard
Insight

Sang Pemimpi

Usai membaca Sang Pemimpi, seri kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Aku kagum pada kemampuan penulisnya mendeskripsikan adegan demi adegan, seakan semua kata itu tertuang begitu saja, mengalir mengiringi waktu. Aku kagum pada ceritanya, dan aku terseret dalam kehidupannya. Tokoh-tokohnya meski bukan siapa-siapa bagiku, aku merasa seolah-olah mereka adalah sahabatku!
Perasaan macam apa ini?
Setiap lembar kubaca, perasaanku teraduk-aduk. Mereka adalah orang yang berjuang keras sejak masa kecil, masa muda, hingga mereka dapat meraih apa yang menjadi mimpi mereka. Ironisnya, mimpi kami sama! Kuliah di Perancis! Dan entah kebetulan atau ini adalah garisan dari Sang Rabb, aku menjumpai figur yang mirip dengan Ikal, Lintang, dan Arai di sini. Ya, Ikie, Faaz. Merekalah inspirasiku. Ikie, berhasil meraih mimpinya bertualang ke Australia. Yah, salutku padanya.

Novel ini hadir di saat yang tepat, mengisi relung-relung akibat kegelisahanku dengan pewartaan semangat yang berapi-api, bahwa aku tidak boleh menyerah. Mimpi adalah hartaku yang paling berharga, yang hanya bisa kugunakan apabila aku telah meraihnya. Mimpi tanpa perjuangan hanyalah omong kosong, kembang tidur belaka. Aku sudah sadari itu. Beberapa mimpi telah kuraih. Kuliah di UGM, ikut Pramuka, menjadi sekretaris racana (bahkan jadi ketua!), jalan-jalan ke luar negeri (dengan embel-embel kontingen pula), sampai menjadi salah satu lulusan terbaik di sekolah (dua kali, SMP dan SMA). Yah, semua terjadi!
Apa artinya ini? Aku seakan disadarkan kembali saat menulis ini. Mimpi itu punya kekuatan. Mimpi itu kuat sekali! Bahkan menghantui setiap saat, sehingga menjadi obsesi bagi orang yang telah teracuni olehnya. Bermimpi itu indah, dan mudah. Yang sulit adalah menggapainya. Bagaimana bisa?
Tiap manusia sejatinya adalah sama. Bahkan cita-cita manusia pada dasarnya sama, ingin sejahtera dan membahagiakan orang lain. Apa yang membedakannya? Pola pikir, yang akan berbuntut pada caranya meraih mimpi. Pola pikir ini adalah hasil rangsangan lingkungan kepada manusia tersebut. Kita, merepresentasikan dua hal. Lingkungan kita dan sifat asli kita. Sifat asli inilah faktor “X” yang misterius itu. Bagaimana bisa, seorang anak buruh perusahaan timah yang miskin seperti Ikal di seri Laskar Pelangi memiliki cita-cita dahsyat seperti itu? Dari ayahnya kah? Dari gurunya mungkin, yang senantiasa mengobarkan semangatnya. Tapi semangat, motivasi, dan dorongan sedahsyat itu dari mana munculnya kalau tidak dari diri sendiri? Aku malu pada diriku. Aku lahir di lingkungan yang lebih baik dari Ikal, tapi apa yang kuperbuat, karya yang kuhasilkan, tidak lebih baik dari dia. Jadi, kombinasi kemiskinan, impian, dan tekad kuat untuk meraih mimpi adalah rumus sukses yang sangat mematikan. Aku hanya memiliki satu diantara ketiganya. Aku hanya punya mimpi. Bahkan aku pun harus berjuang untuk meraih tekad kuat.
Sejatinya, tulisan ini adalah luapan emosiku setelah membaca Sang Pemimpi. Novel ini begitu… inspiratif! Seperti kata-kata yang kutuliskan di halaman depan buku itu, di hari aku membelinya.
Aku sudah sampai di titik ini saat ini. Dan Ikal mengatakan, “Lakukanlah yang terbaik di tempatmu berdiri, saat ini!”
Dan di manapun aku berdiri, di manapun aku berada, di manapun aku melewatkan waktu, aku harus selalu melakukan yang terbaik. Kusadari, ini semua bukan untuk diriku semata, tapi juga untuk orang-orang di sekitarku, terutama orang-orang yang mendorongku maju hingga sampai di titik ini.
Absurd.
“Kita takkan mendahului nasib”
Yah, tapi kita harus tetap merencanakan ke mana kita akan pergi, ke mana nasib kita kan berlabuh, terlepas dari sebesar apa badai yang akan menghantam perahu kehidupan kita.
Sesal yang tersisa untuk semua keangkuhanku. Kini saatnya belajar, sebuah hal yang akan kulakukan sampai mati.

Ah, impian-impianku… Ke mana kalian? Aku terus bermimpi kelak akan bersekolah ke Perancis. Aku bermimpi, bahkan kadang dalam lamunanku aku membayangkan diriku memainkan biola, mengalunkan lagu rindu. Aku bermimpi dapat membanting seorang penjahat dengan halus, sebagai seorang praktisi aikido. Ke mana impian-impian itu? Meski terus ada dalam hatiku, aku selalu gelisah! Ya, mimpi adalah hartaku yang paling berharga! Tapi bila aku tak dapat meraihnya, bagaikan aku memiliki harta berlimpah bermilyar-milyar tapi tak bisa kubelanjakan karena terkunci di dalam brankas super. Kunci. Aku harus mendapatkan kuncinya! Dengan itu mimpi-mimpiku dapat terwujud. Mimpi bukan hanya soal uang, tetapi batin!

Standard