Insight

Pemuda Menyumpah

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Satu, Tanah Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Hayo, siapa yang tidak kenal naskah di atas? Tulisan klasik tersebut tentunya bukan puisi Chairil Anwar, atau cuplikan dari Serat Centhini. Itu teks Sumpah Pemuda man! Sudah 79 tahun para pemuda Indonesia menyumpah, dan kita pun semakin ahli dalam hal sumpah-menyumpah.

Negara kita kaya. Betapa tidak, mulai dari sumpah prajurit, sumpah setia, sumpah jabatan, sumpah atlet, sumpah pocong, dan yang paling monumental sumpah pemuda. Namun, tentunya kita kenal hukum “ada aksi ada reaksi”. Saat menyumpah, umumnya kita akan merasa senang karena dapat mengeluarkan ganjalan emosi. Mohon pula diingat, saat kita senang ada pihak yang ikut-ikutan tidak senang, dan ini sah karena sesuai kaidah “ada aksi ada reaksi” tadi. Ada yang meyumpah, ada pula yang disumpahi. Coba pikir, apakah para prajurit, setia, pejabat, dan atlet tadi senang saat kita sumpahi? Bila mereka tidak senang disumpahi apalagi pocong.

Nah, karena menyumpah banyak pihak seperti tadi tidak efisien, dan menyakiti hati yang dimaksud, sebaiknya kita memulai penyumpahan yang lebih terarah. Tidak baik menyumpahi prajurit, bisa-bisa dihadiahi pelor, minimal popor. Tidak nyaman pula menyumpahi setia, kasihan, sudah setia malah disumpahi. Begitu pun pejabat dan atlet. Kita semua tentunya iri dengan kedudukan para pejabat, karena kursi mereka bagus-bagus. Kita pun iri tanpa sebab dengan para atlet, karena badan mereka bagus-bagus, tapi sebenarnya didasari sirik karena kita pada umumnya malas olahraga. Namun itu bukan alasan yang cukup untuk menyumpahi seseorang. Lalu, bagaimana dengan pocong? Kurang baik, karena menyelenggarakan sumpah pocong cukup merepotkan, selain itu tidak praktis dan tidak lagi digemari sebagaimana zaman Rano Karno dulu. Lalu apabila pocongnya tersinggung, siapa yang berani memintakan maaf? Nah, pembahasan sumpah-menyumpah kita mulai mengerucut, kita tinggalkan para prajurit, setia, pejabat, atlet, dan pocong tadi.

Siapa lagi yang bisa disumpahi? Pemuda! Tepat sekali, karena urusan sumpah-menyumpah biasanya dilakoni para anak muda, sesuai dengan gelora jiwa mereka. Di tiap daerah, di tiap sudut kota, di tiap masa, ada saja pemuda yang menyumpah. Kadang menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia, sering pula menggunakan bahasa ibu masing-masing. Cocok sekali bukan? Menyenangkan sekali menyadari bahwa pemuda-pemuda kita dapat saling bertukar sumpah, menyumpahi dan disumpahi tanpa takut salah, lha wong sesuai dengan jiwa mereka. Memang top para pemuda kita untuk urusan yang satu ini.

Alangkah bahagianya para pendahulu kita, para mantan pemuda yang dulu bersumpah. Kegemaran mereka kini dapat dilakukan di negera merdeka, dan diteruskan oleh para penerus mereka, sesama pemuda yang suka menyumpah.

Jadi, sudah ingat isi Sumpah Pemuda? Jangan hanya dihapal, tapi juga diamalkan. Bayangkan bila para pemuda se-Indonesia melantunkan isi Sumpah Pemuda dalam sumpah-sumpahan mereka seraya mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari, luar biasa bukan?

Bersatulah Indonesia!

Advertisements
Standard