paddling to the stars!

KKN #3: Konon itu Demit

with 2 comments

Mbah Ritno, kepala Dusun Sawangan, konon berumur 98 tahun (tahun ini, 2008). Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, katanya pernah satu gugus tugas dengan Pak Harto. Beliau menjabat kepala dusun sejak 1966. Tidak hanya dihormati, tetapi juga disegani. Konon, beliau memiliki ilmu spiritual yang tinggi, demi melindungi dusunnya. Mitos bahwa pemimpin memiliki “ilmu” sakti sudah lumrah di nusantara. Mbah Ritno adalah salah satu contohnya. Paling seru kalau diajak cerita tentang asal-usul Dusun Sawangan, lalu lelembut-lelembut di hutan sekitar dusun, dan cerita-cerita mistis lainnya. Kebetulan, daerah pedesaan terpencil seperti Sawangan ini sangat subur dengan mitos dan cerita semacam itu. Kita mulai…

Konon, Dusun Sawangan didirikan oleh Mbah Sanggar Waringin, sekian ratus tahun yang lalu. Simbah ini masih menjaga dusun, berdomisili di sebuah pohon duren besar di jalan masuk dusun. Brrr… Kesimpulannya belum jelas, Mbah Waringin ini berstatus manusia atau bukan.

Dua bulan kami di sana (untungnya) tidak pernah mengalami hal-hal aneh. Paling satu atau dua kali ketakutan dalam gelap dan kesendirian. Oong, pernah suatu ketika harus pulang sendirian mengendarai motor dari Karanggondang jam 7 malam. Sendirian, gelap, sepi, Cuma diramaikan deru motor. Jalan Karanggondang-Sawangan melintasi hutan, banyak pohon-pohon besar. Tahu sendiri kan mitos tentang keangkeran pohon besar? Apalagi di tengah hutan. Malam lagi. Sendirian. Kurang apa untuk cerita horor? Sepanjang perjalanan 20 menit itu Oong terus bersalawat, sembari berdoa ban motor tidak bocor (bayangkan kalau bocor…). Dia hanya berani memelototi jalan yang disinari lampu motor, takut melihat hal yang aneh-aneh kalau berani tingak-tinguk. Untunglah dia selamat sampai di Sawangan. Bukan ucapan selamat yang ia dapatkan setibanya di sana. Pak Tono, salah seorang warga, “Mas, kok berani banget jalan lewat situ malam-malam?” “Pohon besar di tikungan sana ditunggui kuntilanak lho, Mas!” Oong sontak pucat pasi!

Esoknya ia mencoba konfirmasi ke Mbah Ritno. “Benar Mas, pohon besar di pengkolan pertengahan jalan Karanggondang-Sawangan itu memang ada penunggunya, kuntilanak” “Saya pernah ketemu sekali” “Kalau jauh, suaranya hihihihi…” (tertawa pelan) Cerita Mbah Ritno dengan serius. “Kalau dekat gimana Mbah?” Timpal Oong. “HIHIHIHI” Simbah menirukan tawa kuntilanak dengan suara lebih keras (Simbah masih cerita dengan gaya serius, tapi kami terbahak-bahak karena HIHIHIHI yang terakhir lucu, bukan horor!).

Untunglah itu hanya sekedar cerita bagi kami.

Satu malam, pernah tinggal aku dan Oong berdua di pondokan. Sebelum tidur, kami saling tukar cerita-cerita mistis seputar Dusun Sawangan. Saking serunya, percakapan tidak mutu itu berlangsung berjam-jam,h ingga pukul 11 malam lebih kami belum tidur juga. Saat mulai mengantuk, mulai tertidur, terdengar lolongan anjing yang tidak wajar. “Aauuuuu…!” Terdengar lolongan yang merintih, tapi agak berbau mistis sehingga bulu romaku berdiri sedikit. Setahuku juga anjing-anjing milik warga jam segitu sudah pada tidur. “Ong, coba dicek di luar, itu anjing betulan apa bukan” Usulku bercanda, dengan niat mengganggu tidurnya. “Emoh ah, kowe wae, yen anjing tenanan aku dikabari!” Sambil terkekeh-kekeh. Itu akhir percakapan kami sebelum tidur yang amat sangat tidak bermutu.

Ada lagi mitos lain, Dewi Srenggi. Di Petungkriyono memang banyak babi hutan (di sini disebut celeng). Karena dianggap hama, penduduk setempat sering mengadakan perburuan. Nah, Dewi Srenggi ini konon (lagi-lagi konon) adalah dewi pelindung celeng. Aku tidak tahu persis bagaimana kesaktiannya dan apa yang bisa dewi itu perbuat, tapi konon (tuh kan, konon lagi!) Dewi Srenggi sangat cantik. Bila kita berjalan sendirian di tengah hutan, lalu berkabut, bisa-bisa kita bertemu Srenggi (entah kenapa suasananya harus horor begitu, namanya juga “konon”). Ia akan menyapa dengan halus. Cantik sih, tapi kakinya itu lho, konon berkaki celeng!

Cantik sih cantik, tapi masa mau punya anak keturunan celeng?

Sori, untuk postingan ini memang tidak ada fotonya…

Written by tiyok

25 September,2008 at 13:45

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ngeri ah kak!!

    :mrgreen:

    tHa_aDzeL

    29 September,2008 at 06:31

  2. Ngingetin aku pas KKN doeloe… setting ceritanya nyaris mirip! (malam2 dari pondokan ~ah, jadi ingat stiker oranye itu… :D ~ ke pusat desa musti lewat hutan selama sekian menit, ffuuhhh… o ya, jangan lupa dikalikan dua u/ bisa nyampe pondokan lagi, kekeke…) :mrgreen:

    permatamerahputih

    28 October,2008 at 13:09


Leave a Reply