Bocah Malam
Jogja, 22.30 WIB di suatu malam…
Malam itu aku hendak menuju Gelanggang Mahasiswa UGM, mengendarai motorku. Di pertigaan Colombo terhenti oleh lampu merah. Kulihat ke sisi kiriku, di trotoar sudah ada dua anak kecil menunggu, kemudian berjalan ke arahku sambil memasang tatapan iba.
Dengan halus kulambaikan tangan, berarti tidak.
Mereka pun berlalu, mencari lampu merah lain.
Ada dua orang anak. Satu memakai kaos, yang satunya saat kutatap sedang mengancingkan jaketnya. Umur mereka kira-kira sebaya. Sama-sama kurus. Dua bocah lanang yang menantang udara malam.
Aku tak tahan menatap mereka lama-lama. Melihat mereka, aku langsung teringat adik laki-lakiku. Sekejap aku membayangkan wajah adikku menggantikan wajah mereka, menatap adik laki-lakiku yang menggantikan mereka, mengemis.
Aku tak tahan.
Bocah-bocah itu masih meneruskan pencariannya di malam itu. Entah apa yang mereka rasakan, entah apa yang mereka pikirkan, dan entah apa yang mereka hadapi. Aku membayangkan adikku sedang terlelap di rumah, nun jauh di Riau sana. Terlelap dalam tidurnya yang nyaman.
Bersyukurlah adikku, kau tak perlu menantang pekatnya malam…