Sang Pemimpi
Usai membaca Sang Pemimpi, seri kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Aku kagum pada kemampuan penulisnya mendeskripsikan adegan demi adegan, seakan semua kata itu tertuang begitu saja, mengalir mengiringi waktu. Aku kagum pada ceritanya, dan aku terseret dalam kehidupannya. Tokoh-tokohnya meski bukan siapa-siapa bagiku, aku merasa seolah-olah mereka adalah sahabatku!
Perasaan macam apa ini?
Setiap lembar kubaca, perasaanku teraduk-aduk. Mereka adalah orang yang berjuang keras sejak masa kecil, masa muda, hingga mereka dapat meraih apa yang menjadi mimpi mereka. Ironisnya, mimpi kami sama! Kuliah di Perancis! Dan entah kebetulan atau ini adalah garisan dari Sang Rabb, aku menjumpai figur yang mirip dengan Ikal, Lintang, dan Arai di sini. Ya, Ikie, Faaz. Merekalah inspirasiku. Ikie, berhasil meraih mimpinya bertualang ke Australia. Yah, salutku padanya.
Novel ini hadir di saat yang tepat, mengisi relung-relung akibat kegelisahanku dengan pewartaan semangat yang berapi-api, bahwa aku tidak boleh menyerah. Mimpi adalah hartaku yang paling berharga, yang hanya bisa kugunakan apabila aku telah meraihnya. Mimpi tanpa perjuangan hanyalah omong kosong, kembang tidur belaka. Aku sudah sadari itu. Beberapa mimpi telah kuraih. Kuliah di UGM, ikut Pramuka, menjadi sekretaris racana (bahkan jadi ketua!), jalan-jalan ke luar negeri (dengan embel-embel kontingen pula), sampai menjadi salah satu lulusan terbaik di sekolah (dua kali, SMP dan SMA). Yah, semua terjadi!
Apa artinya ini? Aku seakan disadarkan kembali saat menulis ini. Mimpi itu punya kekuatan. Mimpi itu kuat sekali! Bahkan menghantui setiap saat, sehingga menjadi obsesi bagi orang yang telah teracuni olehnya. Bermimpi itu indah, dan mudah. Yang sulit adalah menggapainya. Bagaimana bisa?
Tiap manusia sejatinya adalah sama. Bahkan cita-cita manusia pada dasarnya sama, ingin sejahtera dan membahagiakan orang lain. Apa yang membedakannya? Pola pikir, yang akan berbuntut pada caranya meraih mimpi. Pola pikir ini adalah hasil rangsangan lingkungan kepada manusia tersebut. Kita, merepresentasikan dua hal. Lingkungan kita dan sifat asli kita. Sifat asli inilah faktor “X” yang misterius itu. Bagaimana bisa, seorang anak buruh perusahaan timah yang miskin seperti Ikal di seri Laskar Pelangi memiliki cita-cita dahsyat seperti itu? Dari ayahnya kah? Dari gurunya mungkin, yang senantiasa mengobarkan semangatnya. Tapi semangat, motivasi, dan dorongan sedahsyat itu dari mana munculnya kalau tidak dari diri sendiri? Aku malu pada diriku. Aku lahir di lingkungan yang lebih baik dari Ikal, tapi apa yang kuperbuat, karya yang kuhasilkan, tidak lebih baik dari dia. Jadi, kombinasi kemiskinan, impian, dan tekad kuat untuk meraih mimpi adalah rumus sukses yang sangat mematikan. Aku hanya memiliki satu diantara ketiganya. Aku hanya punya mimpi. Bahkan aku pun harus berjuang untuk meraih tekad kuat.
Sejatinya, tulisan ini adalah luapan emosiku setelah membaca Sang Pemimpi. Novel ini begitu… inspiratif! Seperti kata-kata yang kutuliskan di halaman depan buku itu, di hari aku membelinya.
Aku sudah sampai di titik ini saat ini. Dan Ikal mengatakan, “Lakukanlah yang terbaik di tempatmu berdiri, saat ini!”
Dan di manapun aku berdiri, di manapun aku berada, di manapun aku melewatkan waktu, aku harus selalu melakukan yang terbaik. Kusadari, ini semua bukan untuk diriku semata, tapi juga untuk orang-orang di sekitarku, terutama orang-orang yang mendorongku maju hingga sampai di titik ini.
Absurd.
“Kita takkan mendahului nasib”
Yah, tapi kita harus tetap merencanakan ke mana kita akan pergi, ke mana nasib kita kan berlabuh, terlepas dari sebesar apa badai yang akan menghantam perahu kehidupan kita.
Sesal yang tersisa untuk semua keangkuhanku. Kini saatnya belajar, sebuah hal yang akan kulakukan sampai mati.
Ah, impian-impianku… Ke mana kalian? Aku terus bermimpi kelak akan bersekolah ke Perancis. Aku bermimpi, bahkan kadang dalam lamunanku aku membayangkan diriku memainkan biola, mengalunkan lagu rindu. Aku bermimpi dapat membanting seorang penjahat dengan halus, sebagai seorang praktisi aikido. Ke mana impian-impian itu? Meski terus ada dalam hatiku, aku selalu gelisah! Ya, mimpi adalah hartaku yang paling berharga! Tapi bila aku tak dapat meraihnya, bagaikan aku memiliki harta berlimpah bermilyar-milyar tapi tak bisa kubelanjakan karena terkunci di dalam brankas super. Kunci. Aku harus mendapatkan kuncinya! Dengan itu mimpi-mimpiku dapat terwujud. Mimpi bukan hanya soal uang, tetapi batin!
Wow..u have great writing mate!!
It’s like river flows..
i like it much..not just because its content but also the way u write and describe…
excellent..
Salam Kangen!!
fickry
25 February,2008 at 09:03
Ya..u’r absolutely right!!
Dreams direct me to be like this..it’s all about dream and how we as human, just walk for it….follow the process..and do it.
But we go for our dream not for our own selves!! Means that we’ve to consider to our environment, responsibilities, friends, etc.
That’s what we call A Real Dreamer..that everybody loves him..
fickry
25 February,2008 at 09:10
Thanks Mate!
Nice words, thanks to motivate me.
tiyokpras
25 February,2008 at 21:35
saya membaca tulisan ini tuk kesekian kali…krn saya kangen teman saya yang dulu sempat sangat dekat…
saya kangen masa2 itu bro…hehe..jadi mellow gini..piss ah..
mana tulisan lainnya??
ikie
6 April,2008 at 16:58
Hehe, sementara belum nulis lagi… Lagi ada sedikit masalah hati di sini
Apa kabar di sana?
tiyokpras
14 April,2008 at 09:40
Sering kali kita mengejar MIMPI
Seolah – olah impian itu adalah TARGET
Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR
Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI
Hidup adalah untuk IBADAH
Ibadah itu bukanlah BERMIMPI
Karena ibadah adalah hidup HARI INI
Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI
Masa depan adalah MISTERI
Masa lalu adalah HISTORI
Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN
MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK
http://fusion-kandagalante.blogspot.com
kandagalantes
11 December,2008 at 09:50
::kandagalantes
Prinsip yang unik
Manusia hidup di dunia pasti memiliki tujuan. Sebut saja tujuan itu adalah impian. Setiap manusia yang memiliki impian pasti bermimpi hal-hal yang baik. Saya percaya, kebaikan dalam impian kita, usaha-usaha kita dalam meraih impian tersebut juga merupakan ibadah.
Sejatinya, impian adalah anugerah Ilahi, untuk apa diingkari?
tiyokpras
19 December,2008 at 06:55
kalau dia bermimpi untuk punya mobil maka apa yang dia dapat hanya mobil saja padahal dia punya kemampuan lebih dari itu…
Kalau dia sanggup beli pesawat mending beli pesawat daripada mobil…
impian itu permainan pikiran bukan anugerah ilahi, anugerah ilahi itu modal bukan hasil dari perlakuan terhadap modal….
trims y
kandagalantes
19 December,2008 at 10:40
Kalau memiliki mobil dan pesawat bisa disebut sebagai impian, sepertinya terlalu dangkal. Sebut saja itu keinginan. Impian adalah hal yang lebih esensial, menyangkut eksistensimu, membuatmu bisa bertanya-tanya dalam diri, “Untuk tujuan apa aku lahir?” Dan ketika kau tidak menemukan jawabannya, kau dapat merasa hampa dan sedih. Itulah impian. Karena itu, impian dapat mendorong orang untuk maju. Impian adalah bahan bakar roket yang mengantar kita ke Mars!
Tiap orang punya pikiran beda-beda, silakan saja.
O ya, blog Anda asik juga, banyak memberi inspirasi
tiyokpras
25 December,2008 at 20:16
bukankah tujuan hidup manusia untuk ibadah?
Khawatirnya mimpi itu hanya permainan pikiran kita untuk menstimulus diri dengan rasa enak dan kesenangan….
kandagalantes
10 February,2009 at 09:05