Archive for October 2007
Sejarah?
Malam kemarin di sanggar bakti pramuka UGM kedatangan sobat lama, Adi, mahasiswa Sastra Nusantara ‘04 UGM. Setelah sekian lama tak jumpa, dia bercerita bahwa dia sekarang kuliah di Sanata Dharma, jurusan sejarah. Wow! Saat itu kebetulan di sanggar ada aku, Mas Arik, Mas Galuh, Adit (yang ini juga sejarawan, tapi di UGM), dan Febrian yang sedang terlelap. Sebelum pindah ke SaDar, Adi juga aktivis gelanggang, tepatnya di Swagayugama di mana dia rutin berkecimpung di dunia pergamelanan. Entah kenapa dia memutuskan pindah haluan setelah setua ini
(maaf Di!).
Dia memulai pembicaraan dengan bercerita betapa berbedanya situasi kampus “sini” dan “sana”. “Wah di sini mahasiswa S1 angkatanku umur 30 juga ada!” we lha, dahsyat benar! “Mulai sekarang aku bayar kuliah” Weh, ini sih dari dulu! Namun, aku tertarik dengan ceritanya bahwa iklim di sana sangat pluralistik, tidak ada dominasi agama tertentu. Kok sepertinya egaliter sekali ya?
Pembicaraan lalu mengarah ke bidang humaniora bidang yang abstrak sekali menurutku. Apa yang sebenarnya dibahas oleh ilmu sejarah? Arsitektur memiliki mata kuliah sejarah. Kedokteran, pertanian, kehutanan, apalagi politik dan sosial, mesti juga punya! Lantas, apalagi yang akan dibahas di ilmu sejarah? Adit menerangkan bahwa di situ dikaji metode penelitian, sistematika, dan lain-lainnya yang mengerucutkan pikiranku bahwa disiplin ilmu sejarah sejatinya mengajarkan sebuah sistem pencatatan. Pembahasan berlanjut ke berbagai peristiwa atau tokoh-tokoh dipandang dari sudut yang berbeda dari versi “resmi”. Ah, apalah isi buku sejarah yang kita pelajari sedari SD dulu? Isinya cuma tahun dan keadiluhungan bangsa kita serta betapa bajingannya bangsa penjajah.
Sultan Agung dari Mataram Islam senantiasa digambarkan sebagai raja yang bijak, nasionalis (nasionalis Jawa tentunya, mana ada Indonesia zaman itu?) , dan patriotis (karena menyerang Batavia yang notabene waktu itu dikuasai Belanda? Hmm…). Sisi lain raja budiman itu (yang tentunya tak banyak orang tahu) adalah pembantaian yang dititahkannya terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan prajurit-prajuritnya banyak yang memilih desersi ketimbang berlama-lama mengabdi di ketentaraan Mataram. Contoh lain adalah benarkah tanam paksa menyengsarakan rakyat? Di satu sisi kesenian rakyat berkembang karenanya. Masih banyak lagi sisi lain sejarah yang tidak kita ketahui.
Lantas, apa arti dari diskusi ini? Aku sendiri juga menyimpulkan bahwa sejak dulu kita didoktrin dan akan terus didoktrin sampai mabuk! Pemahaman kita akan sebuah ilmu ternyata hanya bersifat tekstual, bukan tekstual. Khusus untuk ilmu sejarah, kita dididik dari SD sampai SMA bahwa sejarah bersifat linier, bahwa sejarah itu ya “itu”, tak ada versi lain. Sejarah digunakan untuk “mensucikan” pemerintah. Kita takkan pernah tahu apakah pahlawan (manapun, dari tingkat daerah hingga nasional) yang kita agung-agungkan itu benar-benar agung dan layak menyandang predikat pahlawan ataukah hanya seorang “jago” yang kebetulan beruntung mendapat tempat di buku sejarah. Yang jelas, ini berakibat pada kekritisan kita dalam berpendapat, dan cara kita memandang negeri ini. Kapan kita dapat melihat sisi lain? Sisi yang selama ini sengaja disembunyikan? Buatku sih, lebih baik mengetahui kebenaran bagaimanapun pedihnya. Pasti ada pelajaran yang dapat dipetik dari sebuah kebenaran, sepahit apa pun itu…
Hm, ada yang berminat merevisi buku-buku sejarah kita? Bukan ding, tapi menambahkan sisi lain sejarah yang selama ini gelap. Ayo, masih banyak PR kita. Bangsa kita akan terus menerus sakit bila kita sendiri bingung akan sejarah kita. Jasmerah, Bung!
NB: yang ditulis dalam postingan ini adalah kesimpulan yang kudapat dari diskusi, bukan diskusi itu sendiri.