Seli yang Seksi
Sudah seminggu ini saya punya teman kalau jalan-jalan. Dia asik, karena itu enak untuk diajak ke mana saja. Dia juga seksi, kalau jalan dengan dia banyak orang yang melirik (ke dia tentunya, apa sih yang bisa dilihat dari saya? *invisible mode: on). Dia juga tidak menolak saya dekap erat, malah saya tunggangi, saya genjot-genjot sampai puas, dan akhirnya kelelahan. Dia tetap setia. Siapakah dia?
Salah satu genre dalam dunia sepeda adalah SELI, alias sepeda lipat. Bentuknya seperti sepeda (ya iyalah), tapi proporsinya berbeda dari yang biasa kita lihat. Yang saya pakai, Polygon Urbano, memiliki roda 20”. Saya pilih ini agar ringkas ketika dilipat, dan bisa dibawa ke dalam kabin kereta kalau mau jalan-jalan. Sampai di kota tujuan, seli dibuka, dan digowes. Simpel to? Jarang jangkau saya jadi bertambah.
Begini nih penampakannya:


Nyata
Siang tadi saya membeli Tempo edisi 5-11 Oktober 2009, di situ ada artikel menarik tentang Njoto. Njoto, nama Jawa yang kesannya lawas, entah masih ada yang menggunakannya atau tidak. Di masa orde yang lalu, mungkin nama itu menyimpan sebuah makna yang bagi setiap orang haruslah dihindari, karena itu akhirnya nama ini tidak lagi populer.
Njoto adalah seorang penikmat hidup. Ia senang membaca sejak kecil, ke manapun selalu saja ada bacaan yang dipegangnya, entah buku, entah koran. Kebiasaan gila membaca yang merupakan turunan dari ayahnya. Sejak kecil kebiasaan ini ditanamkan, sehingga menjadikan ia sebagai sosok yang berwawasan luas. Kegilaannya akan membaca mengantarkannya pada dunia tulis-menulis, yang kelak menjadikannya seorang redaktur. Njoto juga seseorang yang menyenangi musik, dan piawai memainkan instrumen. Sebut biola, piano, bahkan saksofon. Ia kerap bermain musik dengan Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana. Beberapa lagu telah ia karang.
Penampilan Njoto selalu rapi. Kacamata tebal selalu menghiasi wajahnya. Di mata anak-anaknya, ia merupakan sosok periang, seorang ayah yang senantiasa menyempatkan waktu berkualitas untuk keluarganya. Sampai di sini, sosok Njoto terlihat nyata, dan sempurna. Tapi, benarkah dia monster, seperti kata orang? Read the rest of this entry »
Awan gelap menyelimuti negeri ini pasca bulan September 1965. Kejadian pemicunya memang kecil, tapi dampaknya luar biasa. Dampaknya terasa hingga puluhan tahun sesudahnya, membuat sekelompok orang meraih untung, dan kelompok lainnya menanggung derita. Bagi saya, titik balik dalam sejarah yang satu itu menyakitkan. Apakah karena saya berada dalam kelompok yang kalah? Tidak. Karena titik balik itu menjadikan sekelompok orang yang tidak seharusnya berkuasa menjadi mahakuasa, menghancurleburkan masa depan bangsa lebih dari yang kita perkirakan.